Minggu, 06 Oktober 2013

Sejumlah Argumen Dan Pernyataan Syi'ah Yang Dapat Dipatahkan Bagian 2


Syia’ah adalah dinul hawa (agama hawa nafsu), selain mereka memalsukan dan mendustakan hadits-hadits sahih berbohong adalah juga salah satu yang disyari’atkan dan dibolehkan menurut mereka, berbohong dalam hal ini dikenal dengan istilah Taqiyyah. Jadi seorang syi’ah demi menyampaikan da’wahnya dan demi menyembunyikan kebusukannya ia diperbolehkan untuk berbohong.  Na’udzubillah.

Baiklah, kita akan melanjutkan kembali penjelasan tentang Argumen-argumen dan pernyataan-pernyataan syi’ah yang bisa kita patahkan:

Keenam:  Di judz pertama dalam kitab milik Al-kailany (Al-kafy) disebutkan nama-nama perawi yang meriwayatkan hadits untuk kaum syi’ah, mereka meriwayatkan hadits-hadits dari Rasulullah SAW dan juga kalam-kalam ahli bait, Sebagian dari nama-nama perawi tersebut adalah : Mufaddal bin Umar, Ahmad bin Umar Al-halaby, U’mar bin Aban, Umar bin Uzainah, Umar bin Abdul Aziz, Ibrahim bin Umar, Umar bin Handzolah, Musa bin Umar, Abbas bin Umar, dan lain-lain. Sebagian besar diantara nama-nama ini adalah nama umar, sama ada nama perawinya maupun ayah dari perawi tersebut. Yang jadi pertanyaan adalah Mengapa mereka semua diberinama umar , sedangkan nama umar adalah seseorang yang sangat mereka benci dan mereka kafirkan? Jelaslah sudah bahwa syi’ah adalah agama hawa nafsu.

Ketujuh: Kalaulah kaum syi’ah menyangka dan maeyakini bahwa ribuan dari para sahabat hadir di Godir Khom (nama tempat) dan mereka mendengar washiat dari Rasululloh SAW. bahwa khilafah akan diteruskan oleh Ali bin Abi Thalib lansung setelah Rasululloh SAW. Wafat, maka kenapa tak satupun dari ribuan sahabat ini mendatangi Ali dan memarahinya karena dia tidak meneruskan khilafah dan malah membai’at Abu Bakar? Padahal diantara para sahabat ini (menurut klaim syi’ah) ada A’mmar bin Yasir, Miqdad bin U’mar dan Salman Al-parisi?

Kedelapan: Kalaulah Ali bin Abi Tahalib mengetahui bahwa pengangkatannya sebagai khalifah setelah Rasululloh SAW. Tertulis di dalam Al-qur’an, maka kenapa dia membai’at Abu Bakar dan Umar juga Utsman bi A’ffan sebagai Khalifah? Jika kaum syi’ah menjawab: “ Itu karena Ali bin abi Thalib lemah!” Maka kita katakan : “ jika kalian mengakui bahwa Ali adalah orang ynag lemah, maka orang yang lemah tidak pantas menjadi Imam, karena Imamah hanyalah pantas bagi orang-orang yang sanggup saja”. Dan jika kaum syi’ah menjawab:  “Ali sebenarnya sanggup akan tetapi dia tidak melaksanakannya”, maka kita katakan : “berarti perbuatan ali ini adalah Khianat, karena dia tidak melaksanakan perintah, adan orang yang berkhianat tidak pernah pantas mejadi seorang Imam dan tidak akan pernah dipercaya sebagai seorang pemimpin!”

Kesembilan: Ketika ali bin Abi Thalib diangkat menjadi seorang Khalifah tak sekalipun kita melihat atau mendengar bahwa ia menyalahi para Khalifah-khalifah sebelumnya, dan Ali tidak pernah sama sekali mengeluarkan Al-qur’an lain kehadapan manusia (sebagaimana klaim syi’ah bahwa Ali mempunyai Al-qur’an lain selain Al-qur’an yang kita kenal sekarang), dan kita tidak pernah mendapati Ali mengingkari salah seorangpun dari para khalifah pendahulunya, bahkan Ali bin abi Thalib malah sering mengulang-ulang perkataannya diatas minbar: “sebaik-baik ummat setelah nabinya adalah Abu abakar dan Umar”. Ali tidak pernah mensyari’atkan nikah Mut’ah, dan Ali tidak pernah sama sekali mewajibkan kepada manusia untuk melakukan Nikah Mut’ah dikala Haji. Ali tidak pernah menghimbau untuk merubah “Hayya A’lal Falah” di dalam Azan menjadi “ Hayya A’la khairil amal”, dan Ali tidak pernah menghapus “Assholatu Khairun Min-annaum” di dalam azan. Kenapa kaum syi’ah melaksanakn sesuatu atau mengklaim sesuatu yang tidak pernah sama sekali disyari’atkan atau dikatakan oleh sayyidina Ali? Jelaslah bahwa syi’ahlah yang mengarang dan membuat-buat hukum seenak nafsunya sendiri.

Kalaulah memang benar Ali mengetahui bahwa Abu bakar, U’mar dan Utsman telah merebut Khilafah darinya, maka kenapa disaat dia menjadi khalifah tidak menyampaikan hal itu dihadapan manusia? Padahal dia mempunyai kekuatan? Dan malah yang terjadi adalah sebaliknya, Ali malah sering memuji-muji kepemimpinan mereka.

Kesepuluh: Syi’ah menganggap bahwa Khulafa’ Ar-rasyidin sebelum Ali adalah kafir, lalu kenapa kita melihat Allah SWT. Malah memberikan pertolongan-nya kepada mereka untuk menaklukkan Negara-negara lain dan memperluas wilayah islam? Dan Islam menjadi Negara yang disegani dan sangat mulia dimasa mereka melebihi masa-masa setelah mereka?. Apakah masuk akal Allah SWT meninggikan derajat islam ditangan orang-orang kafir seperti Abu bakar, Umar dan Utsman (seperti yang diklaim syi’ah)?

Dan sebaliknya, disaat kepemimpinan Ali bin Abi Thalib (seorang Al-ma’shum menurut syi’ah) kita melihat kaum muslimin malah terpecah-belah dan bahkan saling memerangi. Dimana ke-M’asuman ali wahai kaum syi’ah? Dimana Rahmah dan ketinggian islam disaat pemimpinnya adalah Al-ma’sum menurut kalian?!, Apakah kalian masih mempunyai Akal?!
IsyaAlllah akan bersambung kebagian selanjutnya.
Wallahu A’lam

Sumber: disarikan dan diterjemah oleh Harun Lubis dari kitab "As'ilah Qodat Syabab As-syi'ah Ila Al-haq" penulis: Ustadz sulaiman Shalih al-khurosyi. Terbitan penerbit Al-khair.

0 komentar:

Posting Komentar