Rabu, 27 Maret 2013

Hukum Membaca Al- Quran diatas Kubur, apakah pahalanya sampai kepada si Mayit?

Bismillahirrahmanirrahim…
Kalau kita lihat belakangan ini banyak sekali hal – hal furu’iyah dalam Islam diperdebatkan oleh berbagai golongan, sehingga menimbulkan banyak sekali perpecahan yang dengan sendirinya menciptakan golongan – golongan yang pro dan kontra. Padahal kalau kita selidiki dengan seksama hukum yang mereka perdebatkan bukanlah sesuatu yang berkaitan dengan Aqidah, tetapi hanyalah masalah Furu’ yang memang sudah Fitrah terjadi, dan telah kita ketahui bahwa Ikhtilafu El-Ulama Rohmah .
Salah satu masalah yang sudah sering kita dengarkan perdebatannya adalah “apakah hukumnya membacakan Al-quran kepada si Mayit di atas kuburan? Dan apakah sampai pahala bacaan tersebut kepada si Mayit?”
Sebagai jawaban dari pertanyaan ini, saya dapat Ulas sebagai berikut, sepertimana yang saya baca dalam kitabnya As-Syekh Ali Jum’ah, Mufti Mesir (Al-Bayan Al-Qowym).
Para Ulama telah sepakat bahwa membaca Al-quran di atas kuburan adalah sesuatu yang boleh, bukan diharamkan, para pelakunya tidak diberi dosa. Bahkan Jumhur Ulama dari kalangan Hanafiyah, As-syafiiyah dan hanabilah sepakat tentang kesunnahannya, sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan Oleh  Anas RA secara Marfu’ ia berkata: “ sesiapa yang memasuki Perkuburan, kemudian ia membacakan surah Yasin padanya, maka diringankanlah ketika itu siksaan terhadap penghuni kubur tersebut, dan bagi yang membacakan al-quran tersebut mendapatkan pahala sebanyak bilangan penghuni kubur tersebut”  (hadits ini dikeluarkan oleh Sohibu Al-Khilal dengan sanadnya, demikian itu disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni, Juz 2 Hal 225)
Dan hadits yang diriwatkan dari Ibnu Umar RA: “bahwasanya ia mewasiyatkan ketika ia nanti meninggal dan telah dikuburkan agar dibacakan disisinya surah Al-Baqoroh fatihahnya dan Khatimahnya”  (hadits ini dikeluarkan oleh Sohibu Al-Khilal dengan sanadnya, demikian itu disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni, Juz 2 Hal 225)
Adapun para pengikut Malikiyah mereka berpendapat akan kemakruhan membacakan al-quran diatas kuburan, akan tetapi as-syekh Ad-Dardir RA mengatakan: “Para Ulama Mutaakhhirun dari kalangan Malikiyah berpendapat akan kebolehannya, berdzikir, dan menghadiahkan pahalanya keatas si Mayit, dan Insya Allah pahalanya akan sampai kepada simayit tersebut” (Kitab As-syarhu Al-Kabir, milik al-Allamah Ad-dardir, juz 1 Hal 423)
Perkhilafan dalam masalah ini sesungguhnya sangat sedikit, dan Madzhab yang mengatakan akan kesunnahannya adalah lebih Kuat, sehingga sebagian ulama mengatakan bahwa kesunnahanya adalah Ijma’ Ulama. diantara Para ulama yang mengatakan bahwa masalah kesunnahannya telah ijma’ adalah imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisy al-Hanbaly sebagaimana ia mengatakan: “ dan siapapun dari kerabatnya yang membacakan al-quran diatas kuburnya, kemudian menghadiahkan pahala tersebut kepada si Mayit, maka Insya Allah, Allah akan menyampaikannya.”  Dan ia juga berkata: “ Sebagian Ulama mengatakan apabila dibacakan Al-quran  disisi si Mayit, dan pahalanya dihadiahkan kepada si mayit, Niscaya pahalanya teruntuk kepada yang membaca, dan seolah-olah si Mayit berada disampingnya maka Rahmat Allah diharapkan akan Menaunginya, dan menurut kami bahwa masalah ini adalah telah menjadi Ijma’ Kaum Muslimin, maka sesungguhnya kaum muslimin pada setiap qurun dan tempat berkumpul dan membacakan Al-quran terhadap si mayit mereka, dan mereka juga menghadiahkannya kepada simayit tersebut tanpa pertentangan” (kitab Al-Mughny, Imam Ibnu Qudamah, juz 2 Hal 225)
Dan As-syekh Al-Ustsmany juga mengatakan bahwa masalah kesunnahanya adalah telah Ijma’, sebagaimana ia mengatakan: “ dan para Ulama telah ijma’ bahwa Istighfar, Do’a, Shadaqoh, Haji dan memerdekakan Hamba itu bermanfaat kepada orang yang telah meninggal, dan pahalanya sampai, dan membaca al-qur’a disisi Kuburan adalah disunnahkan”(kitab Rohmatul Ummah Fi Ikhtilafi Al-Aimmah, milik As-syekh Al-utsmany)
Para ulama beralasan terhadap sampainya pahala bacaan kepada si mayit, adalah bolehnya melaksanakan haji teruntuk kepada si mayit dan sampainya pahala Haji tersebut kepadanya, karena haji itu mencakup shalat, dan dalam shalat ada bacaan Al-quran seperti surah al-fatihah dan yang lain, “maka setiap yang sampai semuanya maka sampailah sebagiannya”, maka pahala bacaan Al-quran itu sampai kepada si Mayit dengan izin Alla SWT, terlebih – lebih apabila yang membaca al-quran tersebut berdoa kepada allah agar Allah memberikan seumpama pahala Al-quran yang dibacanya kepada si mayit.
Maka sebagai kesimulannya kita dapat mengatakan bahwa kebanyakan Ulama berpendapat, dan bahkan sampai ada dari mereka yang meng- Ijma’kan bahwa membaca Al-quran diatas kuburan adalah boleh hukumnya. Dan adapun masalah menghadiahkan pahala bacaan tersebut kepada si mayait apakah sampai atau tidak, maka Jumhur Ulama berpendapat pahala tersebut sampai kepada si mayit.
Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.
Sumber: disarikan dari Fatwa As-syekh Ali Jum’ah, Mufti Negara Mesir, dari Kitabnya Al-bayan Al-qowym.

Minggu, 17 Maret 2013

Hamid Fahmi Zarkasyi : Konflik Suriah Itu Perang Sunni Versus Syi'ah














SOLO (voa-islam.com) –Direktur Institut for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi  mengatakan, konflik yang terjadi di Suriah bukanlah peperangan untuk memperebutkan sebuah wilayah atau minyak. Bukan pula konflik antara pemerintah melawan rakyat. Peperangan di Suriah adalah perang ideologi, antara Sunni dan Syiah.
“Di Suriah, terjadi pertempuran antara Sunni dan Syi’ah. Disana itu telah terjadi pembantaian yang dilakukan oleh Rezim Bashar Assad terhadap Muslim Sunni. Bashar itu Syi’ah Nushoiriyyah, lebih sesat dan kafir daripada Syi’ah (yang aslinya -red),” tegasnya.
Menurut Gus Hamid – sapaan akrabnya- apa yang dilakukan pemerintah Iran di Suriah dengan merupakan bentuk pembelaanya kepada sesama kalangan berfaham Syi’ah dan mengamankan kepentingannya di Suriah. Lebih dari itu, pemerintah Iran secara tegas  mendukung rezim Syi’ah Bashar Assad yang meneror dan membantai umat Islam Sunni di Suriah dengan mengirimkan bantuan senjata dan tentaranya untuk mengamankan pemerintahan Bashar.
“Di Suriah inikan pimpinannya Syi’ah. Sebenarnya yang terjadi di Suriah adalah, Bashar dengan  Syi’ahnya berhadapan dengan rakyatnya yang mayoritas sunni. Dan orang-orang Hizbullah (Libanon -red) itu dan pemerintah Iran diam-diam membantu Bashar. Dan tidak hanya Syi’ah di Libanon dan Iran, Syi’ah dimana-mana sekarang juga turun membantu pemerintah Bashar,” jelasnya.
Sangat disayangkan, banyak masyarakat awam, khususnya umat Islam di Indonesia, bahkan dunia menganggap negara Iran yang mayoritas berfaham Syi’ah disebut sebagai “pahlawan”. Anggapan tersebut tak lain karena sikap pemerintah Iran yang terlihat begitu “garang” dalam menentang setiap kebijakan-kebijakan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya terhadap dunia muslim.
Dan yang “membutakan” mata umat islam Indonesia dan masyarakat dunia muslim tentang siapa sejatinya pemerintah Iran yang kelihatannya membela kaum muslimin di Palestina setiap kali bumi Al Quds diserang oleh Zionis Israel. Bahkan dengan bantuan media massanya, Iran menggembar gemborkan akan menyerang dan siap bertempur dengan AS.
Namun disaat yang bersamaan, ketika rakyat Suri’ah yang mayoritas berfaham ahlu sunah atau Sunni, diteror, disiksa, diperkosa para wanitanya, dibantai anak-anak dan para orang tuanya oleh penguasa rezim Syi’ah Alawit Nushoiriyyah Bashar Al-Assad, pemerintah Iran diam seribu bahasa. Bahkan sebaliknya, Iran menuduh AS dan para pejuang Suri’ah yang menyebabkan terjadinya kekacauan di salah satu bumi Syam tersebut.
Ketua Majelis Ulama dan Intelektual Muda Indonesia (MIUMI) itu juga menilai pembelaan pemerintah Iran terhadap Palestina hanya permainan politik, retorika semata, sandiwara dan “gertak sambal” terhadap AS. “Itu hanya retorika dan politik semata. Selama ini tidak ada bantuan untuk rakyat Palestine. Yang sangat membantu Palestine itu adalah Jordan dan Saudi serta negara-negara Islam lainnya.  [Bekti]
Sumber: http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/03/16/23612/hamid-fahmi-zarkasyi-konflik-suriah-itu-perang-sunni-versus-syiah/

Astaghfirullah, Ansyaad Mbai Tuding Buku Jihad Menginspirasi Terorisme

JAKARTA (voa-islam.com) - Kapala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Ansyaad Mbai menuding pelaku perampokan Tambora, Jakbar, terkait dengan jaringan teroris.
Bahkan ia berani menyebut bagian dari kelompok Abu Umar yang berperan. Anehnya Ansyaad sendiri mengakui bahwa Abu Umar telah berada di balik jeruji besi sejak dua tahun lalu. “Dia kelompoknya Abu Umar, yang sudah dua tahun lalu masuk penjara," kata Kepala BNPT, Ansyaad Mbai, Sabtu (16/3/2013).
Tak hanya itu, Ansyaad juga kembali menstigmatisasi buku-buku jihad, padahal jihad merupakan bagian dari ajaran syariat Islam yang tak bisa dipisahkan.
"Pimpinan teroris ini, terus menyerukan untuk berjihad dan memusuhi pemerintah, menyebarkan kebencian untuk pemerintah," kata Ansyad saat berbincang.
Ansyaad mengatakan seruan jihad itu disebarkan melalui buku-buku yang ditulis di dalam penjara.
"Dalam penjara pun mereka ini terus bikin buku," ujarnya. [Widad/dtk, kps]

Sumber:http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/03/17/23619/astaghfirullah-ansyaad-mbai-tuding-buku-jihad-menginspirasi-terorisme/

KRITISI PEMBICARA, 2 MAHASISWA INDONESIA DI USIR DARI GEREJA DI AMERIKA

Dua pelajar Muslim peserta pertukaran pelajar di Perham, Minnesota, Amerika Serikat mengaku diusir dari gereja, setelah mereka mempertanyakan pembicara tamu yang mengatakan “Islam sama dengan terorisme,” lapor situs Wday.com Selasa (5/3/2013).

Dua pemuda itu, Fikri Rahmat dari Indonesia dan Elshan Mirzazade asal Azerbaijan yang tinggal dengan keluarga Mary Anderson tertarik untuk menghadiri forum publik Assembly of God setelah mendengar Walid Shoebat menjadi pembicara dalam acara tersebut.


Di Amerika Serikat, Walid Shoebat dikenal luas sebagai mantan Muslim yang murtad menjadi pemeluk Kristen, mengaku sebagai mantan teroris yang kemudian menjadi pakar anti-terorisme dan kerap menjelek-jelekkan Islam. Dia pernah berkata, “Al-Qur`an adalah hasil korupsi dari Bibel.”

Kedua pelajar berusia belasan tahun itu diusir keluar dari Gereja Assembly of God di Perham, saat sesi tanya jawab dengan Walid Shoebat sebagai pembicara.

“Kami tidak bermaksud untuk beradu argumentasi dengannya, tetapi kami ingin mengatakan kepada orang-orang bahwa apa yang dikatakannya salah,” kata Elshan, kepada stasiun televisi lokal WDay yang mewawancarainya.

“Saya menyimpulkan dalam pikiran saya bahwa dia menjadi marah karena mungkin dia takut akan kebenaran. Salah seorang temannya mendatangi kami dan berkata, 'keluar, keluar' dengan kasar kepada kami,” cerita Fikri.

Elshan menambahkan, “Mereka menggiring kami keluar dan menyuruh kami pergi dan kami berkata, 'OK, OK'. Maka ketika kami pergi, saya berteriak, 'Cara bagus untuk mempromosikan perdamaian, bravo, bravo'.”

Pihak gereja berdalih, kedua remaja itu disuruh pergi saat emosi sudah memuncak.

“Tidak ada yang diusir keluar karena mereka Muslim,” kata Dirk Currier, pastor Assembly of God.

“Dialog itu bukan dialog. [Dialog] Itu berubah menjadi semacam lomba teriak,” kata Currier.

Mary Anderson yang menjadi ibu asuh kedua pemuda Muslim tersebut mengaku kecewa.

“Saya pikir saya mengirim kedua anak itu ke rumah kasih sayang, dan saya kecewa sebab justru kebencian yang diajarkan di sana,” katanya.

Kedua pemuda itu lantas mencari tahu lebih banyak tentang Shoebat. Ternyata kredibilitas pembicara tamu yang disebut-sebut sebagai pakar anti-terorisme yang diundang Gereja Assembly of God itu diragukan.

Menurut WDay, stasiun televisi CNN dan media lainnya pernah mencari tahu kebenaran klaim Shoebat, yang mengaku Homeland Security --lembaga kemanan dalam negeri AS-- pernah memberikannya dana untuk berbicara keliling Amerika guna mengkampanyekan anti-terorisme. Pengakuan Shoebat pernah menjadi anggota Organisasi Pembebasan Palestina PLO juga dipertanyakan kebenarannya. Sementara keluarga dan temannya mengatakan, pengakuan-pengakuan palsu itu dikarang Shoebat untuk keuntungan pribadinya sendiri.

Menyusul laporan WDay mengenai dua pemuda Muslim yang diusir gereja ini, pihak stasiun televisi itu mengaku dihubungi organisasi Muslim terbesar dan disegani di Amerika, Council on American Islamic Relations (CAIR) yang berbasis di Washington DC.*




Sumber Resmi situs Wday.com

Sumber: http://www.facebook.com/pages/ISLAM-Bersatu-Muallaf-Berseru/246241695508429?ref=stream

Sabtu, 09 Maret 2013

Amerika Serikat dan Iran Ingin Bashar al-Assad Tetap Berkuasa








 

Damaskus (voa-islam.com) Perkembangan politik yang paling menarik di Timur Tengah saat ini, mengamati perilaku politik Amerika Serikat dan Iran, kaitannya dalam konflik di Suriah. Tentu, semua itu terkait dengan bagaimana kedua negara itu, mensikapi terhadap konflik yang terjadi di Suriah.
Selama ini, Amerika Serikat, melalui Presiden Barack Obama dan Menlu Hallary Clinton, selalu menegaskan sikap agar Presiden Bashar al-Assad, segera mengundurkan diri dari kekuasaan.
Amerika Serikat melalui pejabat utamanya melakukan lobbi ditingkat tinggi, diantara para pemimpin Timur Tengah, termasuk Turki, mendorong agar Bashar Al-Assad segera membentuk pemerintahan transisi, dan menyelenggarakan pemilihan umum.
Bahkan, menurut berbagai sumber, Amerika Serikat mengirimkan senjata dan sejumlah tim militer dan intelijen yang dikoordinasi oleh CIA, melakukan hubungan dengan kelompok pejuang Suriah (FSA), membantu gerakan perlawanan yang ada di dalam Suriah.
Sebaliknya, Iran dengan segala kemampuan yang dimilikinya, terus berusaha mempertahankan rezim Bashar al-Assad. Iran mengkoordinir kekuatan elemen-elemen militer Syiah di Irak, dan Lebanon, serta mengirimkan pasukan khusus Iran, Garda Republik pergi ke Suriah, membantu mempertahankan pemerintahan Bashar al-Assad.
Tetapi, sebuah pernyataan yang sangat mengejutkan, bahwa sejatinya Amerika Serikat dan Iran, tidak menginginkan Bashar al-Assad mengundurkan diri, dan ingin tetap mempertahankan Bashar al-Assad di pusat kekuasaannya.
Sebuah perkembangan yang sangat menarik, karena selama ini, banyak kalangan yang menilai adanya sikap perbedaan antara Amerika Serikat dan Iran, khususnya dalam kasus konflik di Suriah. Sebelumnya tidak diprediksi Amerika Serikat dan Iran tetap menginginkan agar Bashar al-Assad terus berkuasa.
Pernyataan yang sangat mengejutkan ini, bersumber dari pemimpin Ikhwanul Muslimin Suriah, yang secara terang-terangan menuduh, bahwa Amerika Serikat, keduanya ingin tetap mempertahankan Bashar al-Assad tetap berkuasa. "Kami tidak pernah percaya terhadap Amerika Serikat. Amerika Serikat selalu membuat standard ganda", ujar pemimpin Ikhwanul Muslimin di Suariah
    

Mohammad Riad Al-Shoqfeh, Pemimpin Ikhwanul Muslimin Suriah, mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran, menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Iran terus melakukan tekanan yang sangat keras, agar berunding dengan Bashar al-Assad, tegasnya. Amerika Serikat dan Iran tidak  menginginkan Bashar al-Assad pergi dari Suriah, tambahnya.
"Amerika Serikat dan Iran benar-benar ingin  Bashar al-Assad tetap berasa di Suriah, dan menempatkan kami bawah tekanan. Tapi kami tidak akan pernah datang membuat perjanjian dengan al-Assad. Kami akan berjuang sampai titik darah terakhir melawan al-Assad" kata Al-Shoqfeh.
Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Anadolu Agency Al-Shoqfeh juga menilai sumbangan Amerika Serikat kepada warga sipil Suriah sangat kecil. "Kami tidak percaya terhadap Amerika Serikat. Amerika Serikat membuat pernyataan yang menyatakan dukungan terhadap para pejuang Suriah, tetapi  tidak pernah merealisasikan kata-katanya", tambah Al-Shoqfeh.
Al-Shoqfeh menggarisbawahi Ikhwanul Muslimin tidak akan pernah melakukan negosiasi dengan Al-Assad.
"Mereka ingin perang di Suriah terus berlanjut sesuai dengan keinginan Israel, negara-negara Barat, dan jangan berharap adanya campur tangan dari luar, mngatasi krisis di Suriah. Mereka akan membiarkan terus konflik di Suriah. Karena mereka bertujuan menjamin keamanan Zionis-Israel", ungkap Al-Shoqfeh.

Al-Shoqfeh menilai perang di Suriah ini akan terus berlanjut, sampai jangka waktu yang panjang, dan masing kekuatan lumpuh, baik pemerintahan Bashar al-Assad, dan para pejuang Islam juga tidak akan dapat mewujudkan impian mereka di Suriah dengan membentuk negara Islam.
Barat akan terus memasok senjata kepada pejuang Suriah dalam jumlah terbatas, dan membiarkan perang di Suriah, tanpa ada pemenangnya,dan semuanya menuju kehancuran, dan tidak lagi memiliki kekuatan militer yang efektif, pasca Bashar al-Assad, dan saat itu baru Barat, Israel, Rusia serta Iran berunding menentukan menentukan model pemerintahan baru Suriah, tentu yang tidak membahayakan bagi keamanan Zionis-Israel.
Amerika Serikat, Rusia, Israel dan Iran akan berlomba membantu kedua belah fihak yang berperang. Ini tujuannya melumpuhkan secara total bagi kekuatan-kekuatan baru di Suriah, khususnya kekuatan Islam, yang akan mengambil kekuasaan, dan dengan kemampuan yang sudah lumpuh. Akibat perang yang berkepanjangan.

Amerika Serikat, Rusia, Israel dan Iran, nampaknya telah membuat konsensus, model pemerintahan baru di Suriah, yang moderat, tidak membahayakan keamanan Israel. Karena, Suriah memiliki perbatasan langsung dengan Israel. Sementara itu, Iran tetap pemerintahan baru pasca Bashar Al-Assad pemerintahan yang multi politik, termasuk mencakup kekuatan Syiah Alawiyyin, yang selama ini menjadi sekutu utama Iran.
Perang di Suriah terus dikelola dengan sangat baik oleh Amerika Serikat, Rusia, Israel, dan Iran, agar tidak akan kekuatan yang menjadi pemenang dan menentukan masa depan Suriah secara mutlak. Penguasa baru di Suriah nantinya, siapapun mereka, harus dibawah kendali Amerika Serikat, Rusia, Israel dan Iran.
Itulah yang menyebabkan mengapa perang di Suriah terus berlarut menuju titik kehancuran total, dan tingkat korban yang sangat luar biasa besar. Tak kurang sudah lebih 100.000  korban yang tewas. Tetapi, belum ada tanda-tanda perang akan berakhir. Karena memang Amerka Serikat, Rusia, Israel, dan Iran tidak menghendaki perang berakhir di Suriah. Wallahu'alam.
Sumber:http://www.voa-islam.com/news/opini/2013/03/07/23520/amerika-serikat-dan-iran-ingin-bashar-alassad-tetap-berkuasa/

Awas!!! 'Dahsyat' RCTI Hina Islam, Sebut Islam Pro Setan


 

JAKARTA (voa-islam.com) – Sangat disayangkan, pernyataan Chef Renne Tanjung yang menyebut kata majemuk ‘Islam Prosetan’ pada tayangan “Dahsyat” RCTI, 24 Desember 2012 lalu, telah menghina Islam. Program acara Dahsyat yang disiarkan RCTI harus dihentikan dan dibubarkan.
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat telah menyampaikan hasil penilaian Majelis Ulama Indonesia (MUI) ke RCTI terkait penayangan Program Siaran “Dahsyat” tanggal 24 Desember 2012 dalam adegan yang menyebutkan kata “Islam Prosetan”. Penilaian Majelis Ulama Indonesia terlampir berdasarkan permintaan KPI Pusat pada surat No. 40/K/KPI/01/13 tertanggal 16 Januari 2013 dan surat No. 137/K/KPI/03/13 tertanggal 4 Maret 2013 seperti dilansir kpi.go.id.
Hasil penilaian Majelis Ulama Indonesia dalam surat No. B-78/MUI/III/2013 tertanggal 4 Maret 2013 (surat terlampir) atas pogram melengkapi isi surat sanksi administratif penghentian sementara KPI No. 138/K/KPI/03/13 tertanggal 5 Maret 2013.

KPI meminta, surat sanksi administratif KPI dan hasil penilaian MUI menjadi bahan evaluasi internal RCTI untuk memperbaiki program tersebut di masa mendatang.

Adapun penilaian MUI terhadap pelanggaran di dalam acara “Dahsyat” yakni dengan mempertimbangkan beberapa ayat Al Qur’an dan hadits yang mengadung pengertian betapa buruknya kata “Syaitan” (Setan). Ayat-ayat Al Qur’an yang dikutip yakni QS. Annisa’/4:119-120, QS. Al Baqarah/2:168-169, QS. Albaqarah/2:208, QS. Annisa’/4:38, QS. Al-An’am/6:142, dan QS. Al-A’raf/7:22. Sedangkan hadits nabi yang dikutip yakni Shahih Muslim, hadits ke-587, juz I halaman 146.
Menurut kesimpulan dengan memperhatikan hal-hal di atas, MUI berpendapat penggunaan kata majemuk “Islam prosetan” adalah tidak benar dan buruk. Islam sama sekali tidak prosetan, bahkan berseberangan.

Diakhir suratnya, MUI merekomendasikan, menghendaki lembaga penyiaran yang memberi kesempatan tampilnya kata majemuk tersebut diberi sanksi sesuai dengan peraturan perundangan. Kemudian untuk menghindari kesalahan sejenis terjadi lagi, MUI meminta setiap program harus direkam lebih dulu agar lembaga penyiaran terlebih dahulu melakukan penyensoran.
Ketua DPD Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta, Habib Salim Alatas atau Habib Selon, (8/3/2013) menilai, "Acara Dahsyat RCTI telah berkali-kali melecehkan Islam. Pernyataan ‘Islam prosetan’ itu menjadi puncaknya. FPI menuntut pembubaran acara Dahsyat RCTI,” tegas Habib Selon.
Habib Selon juga mendesak menejemen RCTI agar segera menghentikan acara musik Dahsyat, karena Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menyatakan acara Dahsyat, 24 Desember 2012, menodai Islam.
“Jika RCTI tetap menyiarkan Dahsyat dan melecehkan teguran KPI serta rekomendasi MUI, FPI akan turun tangan menghentikan dan membubarkan Dahsyat,” pungkas Habib Selon.
Di surat sanksi KPI dijelaskan pelanggaran yang dilakukan program Dahsyat yakni ditayangkannya adegan Raffi Ahmad bertanya kepada  bintang tamu, Chef Renne Tanjung, “Kamu Natal nggak?” dan kemudian Chef Renne menjawab: “Nggak!” Lalu Raffi bertanya, “Kamu nggak Natal ya?” Chef Renne menjawab, “Nggak, saya Islam prosetan.”
Hal itu menjadi kesimpulan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait pernyataan bintang tamu Chef Renne, saat menjawab pertanyaan presenter Dahsyat, Raffi Ahmad. Penayangan adegan yang menyebutkan Islam prosetan itu, dikategorikan sebagai pelanggaran atas penghormatan terhadap nilai-nilai Islam serta perlindungan untuk anak dan remaja.
Hasil penilaian MUI dalam surat No. B-78/MUI/III/2013 tertanggal 4 Maret 2013, melengkapi isi surat sanksi administratif penghentian sementara KPI No. 138/K/KPI/03/13 tertanggal 5 Maret 2013. [Desastian/salam-online]
Sumber:  http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/03/09/23539/awas-dahsyat-rcti-hina-islam-sebut-pro-setan/

Minggu, 23 Desember 2012

Tokoh-tokoh Ini Anggota Freemasonry? – 1

Joko Widodo
Tokoh yang akrab disapa Jokowi ini melejit ke kancah perpolitikan nasional setelah memesan mobil Esemka, mobil rakitan anak-anak sekolah di kota dimana ia menjabat sebagai walikota; Solo. Ia lalu diusung PDIP dan Partai Gerindra untuk maju sebagai calon gubernur di Pilkada DKI Jakarta 2012, berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama, mantan Bupati Belitung Timur dan anggota DPR RI dari Fraksi Golkar yang akrab disapa Ahok. Ia sukses memenangi putaran pertama Pilkada dengan perolehan suara di luar dugaan; 43,6 persen, mengalahkan Gubernur Fauzi Bowo yang maju dalam Pilkada sebagai incumbent, dan berpasangan dengan Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta Nachrowi Ramli, karena Fauzi Bowo hanya meraih 34,05 persen suara.
Sejumlah pengamat politik, seperti Andrinof Chaniago dan Burhanuddin Muhtadi, meyakini bahwa Jokowi menang karena figurnya yang ramah, murah senyum, merakyat dan tidak suka menebar janji muluk-muluk, dan karena kesuksesannya memimpin Kota Solo selama dua periode. Jokowi pun muncul sebagai sosok fenomenal yang dielu-elukan dan diagung-agungkan oleh banyak orang. Ia bahkan dianggap sebagai tokoh masa depan Indonesia, dan diyakini bakal memenangi putaran kedua Pilkada DKI Jakarta pada 20 September 2012, karena seperti dikatakan Andrinof Chaniago, kemenangan yang diperoleh akibat figur, sulit dibendung.
Pada akhir Februari 2012, tepatnya di tanggal 23, muncul sebuah berita yang kurang menarik, namun berita ini pastinya akan sangat mengejutkan bagi penggemar kasus-kasus konspirasi Yahudi di Indonesia. Dikutip dari Harian Joglosemar edisi Kamis 23 Februari 2012, Rotary Club (RC) Solo Kartini melantik Istri Walikota Surakarta Iriana Joko Widodo sebagai anggota kehormatan mereka, bersamaan dengan ulang tahun ke-107 Rotary Internasional.
Pastinya yang membaca berita ini terkejut. Siapa sangka Pak Walikota yang mereka bangga-banggakan ternyata teman dekat agen kolonialisme dan Zionisme. Seperti dikutip dari Eramuslim, peneliti tentang Zionisme Ridwan Saidi, yang dinukil dari buku Jaringan Yahudi di Nusantara karangan Artawijaya, menyebut Rotary Club Internasional sebagai perabot Zionis. Sebagai organisasi elit yang menjalankan misi kemanusiaan, Rotary Club sepenuhnya dikendalikan oleh Freemasonry dan Zionisme. Bahkan sebelumnya (seperti dikutip dari Sragenpos edisi 15 Juli 2011) Walikota Solo, Joko Widodo, bersama sejumlah anggota Rotary Club Solo Kartini meninjau proyek porselenisasi di RT 8 RW XX, Krajan, Kadipiro, Solo pada Jumat (15/7).
Dalam laporannya, Nahimunkar.com juga menyebut bahwa Rotary Club dan saudara kembarnya, Lions Club, merupakan kaki tangan Zionis. Rotary Club mempunyai persamaan besar dengan Freemasonry. Keduanya memiliki pemahaman yang sama tentang nilai dan semangat yang membentuk jiwa seseorang, seperti ide egaliti, fraterniti, semangat humanisme, dan kerjasama internasional. Ini adalah semangat yang sangat berbahaya yang diarahkan untuk mengikis karakteristik bangsa-bangsa dan menguburkan segala bentuk loyalitas, sehingga pribadi-pribadi akan kehilangan identitas dan harga diri, serta hidup dalam kebimbangan. Akibatnya, tak ada lagi kekuatan yang dominan, kecuali orang-orang Yahudi yang terus-menerus berambisi mendominasi dunia.
Seperti dikutip juga dari Nahimunkar.com, FUUI menjelaskan bahwa Rotary Club mencekoki anggotanya agar mengikuti agama yang diakui atas dasar persamaan sesuai urutan abjad, seperti Budha, Islam, Yahudi, Masehi, dan seterusnya. Dalam urutan terakhir tersebut, Taoisme, sebuah keyakinan orang-orang Tionghoa yang muncul pada abad ke-6 SM, meyakini bahwa kebahagiaan dapat terpenuhi dengan tercapainya kebutuhan insting manusia dan kemudahan hubungan sosial dan politik sesama manusia.
Sebenarnya Tidak Mengejutkan. . .
Pada hakikatnya, siapapun yang cermat menelusuri sepak terjang Jokowi sejak awal, tidak akan terkejut, karena agaknya ia memang tidak tanggap dan tidak memiliki sensitivitas terhadap masalah-masalah akidah. Ini tercermin dari dua kali Pilkada Solo dimana dua-duanya ia berpasangan dangan wakil beragama Nasrani, dan ketiga di Pilkada DKI. Memang banyak sekali versi-versi tentang pengkafiran orang-orang yang berbuat salah kaprah seperti Jokowi ini. Ada yang mengkafirkannya ada yang belum berani. Padahal dalam ayat al-Qur’an banyak tertera larangan memberikan kepemimpinan serta kepercayaan kepada orang kafir, atau yang disebut dengan tawalli.
 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”( QS. Al-Maidah 5:51)
Syaikh Abdullah Ibnu Abdillathif Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahumullah berkata saat menjelaskan penjelasan tawalli dan muwalah: “Tawalli adalah kekafiran yang mengeluarkan dari millah, dan ia itu seperti membela mereka dan membantu mereka dengan harta, badan dan pendapat (dalam memerangi kaum muslimin). Dan muwalah adalah dosa besar, seperti menuangkan tinta atau merautkan pena atau berseri-seri kepada mereka seandainya dia menyodorkan cemeti untuk mereka”. (Ad Durar As Saniyyah: 8/422, lihat At Tibyan Fi Kufri Man A’anal Amrikan 98)
Adapun apa yang dilakukan Jokowi sangat membahayakan kaum muslimin. Sewaktu-waktu dapat dengan mudah, dengan justifikasi peraturan yang berlaku, bahwa jabatannya akan berpindah dengan orang-orang yang kekafirannya bahkan disepakati oleh ahli bid’ah sekelas murjiah sekalipun. Sungguh perbuatan tawalli yang mengkafirkan. Seperti diketahui, wakil-wakil yang diajukan untuk menjadi orang nomor dua setelah Jokowi adalah nasrani tulen seperti Rudy dan Ahok.
Bisa jadi suatu saat, dengan prestasi dan kepandaiannya, Jokowi akan melesat sebagai capres. Hingga seperti biasa, partai sekuler PDIP bukan tidak mungkin akan menampakkan simbol-simbol pluralisme lagi dengan mengangkat calon wakil dari kalangan kafir asli. Tidak mustahil jika partai-partai seperti PDS akan mendomplengkan wakilnya kepada PDIP, sebab PDIP ini terkenal sangat abangan, sebuah sisi oposisi dari santri.
Pedulilah Akan Akidah Wahai Para Aktivis . . .
Hingga akhirnya, sebagai aktivis Islam, dari manapun golongannya, hendaknya peduli kepada akidah dan keimanan seseorang. Jangan sampai salah memilih panutan dan idola. Serta sebuah tindakan yang salah kaprah ketika membangga-banggakan dan membela orang-orang macam ini. Tidak dipungkiri mereka yang telah disebutkan diatas merupakan orang jenius, tetapi keberadaan orang-orang seperti mereka merupakan fitnah dan cobaan bagi kaum muslimin.
Belum juga kasus-kasus lain, seperti ritual musyrik kala Jokowi memandikan mobil Esemka, kasus-kasus seperti ini harus menjadi perhatian dari kaum muslimin. Apalagi banyak aktivis dan thullab Islam serta mengaku membela-bela Palestina dan negeri-negeri yang dijajah lainnya, tetapi secara sadar atau tidak telah membela dan menyanjung-nyanjung mereka-mereka yang bergandengan tangan denga orang kafir yang telah dilaknat sebagai anak cucu babi dan kera.
” Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka”. (QS. Al Baqarah: 120)
Petunjuk yang mengarah
Jika Anda sangat tidak memercayai artikel di atas, cobalah cermati foto-foto ini :
Nama Raja ini makin mencuat setelah ditunjuk Presiden SBY menjadi Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (Meneg BUMN). Bahkan begitu menjabat, dia langsung membuat gebrakan-gebrakan yang membuat orang tercengang. Oleh banyak kalangan, ia kini juga digadang-gadang untuk dijadikan calon presiden pada Pilpres 2014.Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan mantan Presiden Amerika Bill Clinton adalah anggota Freemasonry. Banyak memang makna simbol dari acungan jempol, telunjuk dan kelingking. Di antaranya, ungkapan “I Love You” dan jika dalam bidang musik merupakan ungkapan jati diri pemusik cadas seperti jenis musik metal. Namun, sesungguhnya simbol itu merupakan Devil’s Horn Sign atau Simbol Tanduk Setan yang merepresentasikan satanic atau pemujaan terhadap setan . Di kalangan bangsa Yahudi, termasuk dalam organisasi Freemasonry, simbol itu merupakan bentuk penghargaan atau penyembahan terhadap Bhapomet, raja Iblis.
Sebelumnya, di media yang di pimpinnya, yang bernaung di bawah Jawa Pos Group, Dahlan memberi tempat eksklusif bagi kelompok liberal, seperti Ulil Absar Abdallah dan kawan-kawan. Mereka mengisi rubrik ‘Kajian Utan Kayu, yang pesan-pesannya kental akan nuansa pluralisme dan deislamisasi.menurut ustad Abu Bakar Ba”asyir, orang Islam pada zaman nabi juga menganut pluralitas, tapi bagaimana mengaturnya? beliau menjelaskan, “Yang berlaku harus hukum Islam, orang kafir boleh hidup di bawahnya, hukum islam yang urusannya ritual berlaku hanya untuk orang Islam saja, orang kafir tidak, tapi hukum Islam yang urusannya untuk peraturan umum berlaku untuk semua, begitulah Islam”. Jadi menurut ustad Abu, orang yang berfaham pluralisme adalah murtad, apalagi faham demokrasi.
Namun, tentang tokoh yang sedang naik daun ini. Berdasarkan data sejumlah sumber, web itu menulis bahwa Dahlan Iskan tercatat sebagai anggota dari Lions Club Indonesia, organisasi milik Freemasonry, dengan nomor keanggotaan 83335. Ia menjadi anggota dari Distrik 307B Indonesia-Surabaya Surya. Ia bahkan sempat menjadi ‘presiden’ distrik tersebut, dan kini menjabat sebagai salah seorang direktur. Tak heran jika pandangan-pandangannya sangat neoliberal.
Kini, saat sedang menjabat sebagai Meneg BUMN, Dahlan sedang melanjutkan langkah yang pernah dilakukan pemerintahan Megawati Seokarnoputri dan dikecam banyak orang; privatisasi BUMN. Satu per satu BUMN yang ‘sehat’ masuk dalam rencana penjualan. Pembelinya tidak lain adalah kapitalis asing (baca; Yahudi).
Lions Club adalah sebuah klub yang diyakini oleh para ahli menginduk kepada Fremansonry, tangan Zionisme Internasional. Tidak semua orang bisa menjadi anggota organisasi ini, karena hanya orang-orang yang di anggap berhasil/sukses dan berpengaruh saja yang bisa masuk ke dalamnya.
Lions club secara lahiriah menyerukan ide “Ikatan Kemanusiaan” dan menghilangkan diskriminasi antara umat manusia. Namun hakikat yang sebenarnya adalah organisasi ini merupakan mantel selubung Zionisme. Ketika berbicara soal utang, Dahlan Iskan membuat “penyesatan” luar biasa. Ini lah kutipannya;
“Apakah anda senang dengan utang yang terus meningkat? Hingga April 2012, utang pemerintah sudah mencapai Rp1.903 triliun. Data Bank Indonesia tahun 2012 menyebutkan, pada tahun 2006 total utang luar negeri Indonesia sebesar 132,63 miliar dollar AS, namun pada 2011 utang itu sudah membengkak menjadi 221,60 miliar dollar AS.
Ada yang cukup menggelitik soal utang yang terus meningkat. Itu ada di tulisan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, yang berjudul “Tekad Baru: Hidup Yang Polos-Polos Saja”. Sebetulnya, pesan yang hendak disampaikan Dahlan lewat tulisan itu sangat bagus: bagaimana tekad yang sederhana bisa mendorong harapan. Hanya saja, ketika berbicara soal utang, Dahlan Iskan membuat “penyesatan” luar biasa.
Dahlan Iskan bercerita tentang pertemuannya dengan warga desa Bunigeulis, yang berada di lereng Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. Warga desa itu sedang diliputi kegelisahan terkait masalah bangsa. Salah satunya adalah soal utang negara yang terus meningkat.
Kepada warga desa itu Dahlan Iskan mengajukan pertanyaan begini: baik mana Anda punya utang Rp8 juta tapi kekayaan Anda Rp10 juta, dengan punya utang Rp20 juta tapi kekayaan Anda Rp100 juta? Bagi Dahlan Iskan, tak soal utang Anda meningkat berapapun besarnya, asalkan kekayaan anda juga meningkat drastis.
Penjelasan Dahlan Iskan betul. Akan tetapi, jika penjelasan itu adalah analogi terhadap kondisi utang negara kita saat ini, maka jelas terjadi manipulasi besar-besaran di situ. Sebab, penjelasan soal utang negara tak sesederhana kisah dua orang yang saling pinjam-meminjam.
Pertama, utang negara yang terus meningkat tidak disertai dengan perbaikan kondisi dan kualitas hidup rakyat. Artinya, penggunaan utang itu belum tentu untuk menggerakkan perekonomian yang menyejahterakan rakyat.
Sebagian besar utang itu dipakai untuk menggerakkan sektor keuangan. Sangat sedikit yang dipakai untuk menggerakkan sektor real, yang notabene menyangkut rakyat banyak. Dari data yang ada disebutkan, sebanyak 39,6 persen utang itu dipakai untuk menggerakkan sektor keuangan. Sedangkan 9,3 persen dipakai untuk perbaikan infrastruktur listrik, gas, dan air. Kemudian sekitar 4,7 persen dipergunakan untuk pengangkutan dan komunikasi. Sementara pertanian, yang menjadi tempat bergantungnya puluhan juta rakyat, hanya menerima alokasi 3,0%.
Ini yang membuat akumulasi utang luar negeri Indonesia tidak berkontribusi pada perbaikan infrastruktur, perbaikan layanan dasar, dan penciptaan lapangan kerja secara massif.
Kedua, sejarah utang—terutama yang berhubungan dengan negara-negara dan lembaga imperialis—adalah “jebakan” alias perangkap (debt trap). Utang luar negeri, seperti ditulis oleh Susan George dalam buku “Debt Boomerang: How Third World Debt Harms Us All”, merupakan suatu mekanisme yang dibuat oleh negara maju (pendonor) untuk memaksa negara penerima (peminjam) mengikuti aturan-aturan atau langkah-langkah yang mereka paksakan.
Negara yang ‘terperangkap utang’ akan dipaksa untuk terus menggenjot ekspornya—terutama ekspor bahan mentah—dan melakukan penghematan pada pengeluaran pemerintah dan belanja kesejahteraan sosial. Ini yang terjadi di sejumlah negara Amerika latin satu dekade lalu dan sekarang terjadi di Indonesia.
Mungkin kita akan bangga dengan ekspor yang meningkat. Akan tetapi, seperti ditulis oleh Eric Toussaint, Presiden Komisi Penghapusan Utang Negara Dunia Ketiga, ekspor ini tidak lebih dari penjarahan kekayaan alam. Menurut Toussaint, dalam dua dekade terakhir, telah terjadi transfer kekayaan berkali-kali lipat dari pinggiran (dunia ketiga) ke pusat (negeri-negeri imperialis). Yang terjadi, negara dunia ketiga akan mengalami kekurangan bahan mentah dan bencana ekologis.
Di samping itu, untuk membayar utang, negara penerima pinjaman harus melakukan penghematan besar-besaran: pemangkasan subsidi, privatisasi layanan publik, dan lain-lain. Bahkan, tidak sedikit disertai dengan privatisasi BUMN. Akibatnya, rakyat dipaksa membayar mahal akses kebutuhan dasarnya (pendidikan, kesehatan, air bersih, listrik, makanan, dan lain-lain).
Inilah yang menjelaskan mengapa peningkatan utang luar negeri justru berbarengan dengan tingkat kesejahteraan dan kualitas hidup manusia Indonesia. Itulah sebabnya mengapa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia, pada tahun 2011 lalu, terperosok di peringkat 124 dari 187 negara.
Jadi, alih-alih kekayaan nasional Indonesia meningkat, utang luar negeri justru menjebak Indonesia dalam “lingkaran krisis”. APBN tidak pernah sehat karena sebagian dipakai membayar cicilan utang. Sedangkan anggaran untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat terus dipangkas. Lantas, apa buktinya bangsa kita menjadi kaya karena utang? Silahkan tanyakan ke Dahlan Iskan“. (selengkapnya, KLIK DI SINI)
Sejak Lama . . .
Sepak terjang kaki tangan Zionis di Indonesia telah berlangsung lama, sejak sebelum Indonesia merdeka. Mereka merekrut orang lokal untuk mempropagandakan slogan mereka, seperti hak asasi anusia (HAM), demokrasi, sikap moderat, toleransi, liberalisme, dan sebagainya. Apalagi Belanda terkenal sebagai tempat pertemuan Zionis Internasional sejak dulu kala.
Dr Th. Stevens, seorang sejarawan Belanda, dalam bukunya: ‘Tarekat Mason Bebas dan Masy`rakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764- 1962’ menyebut gerakan-gerakan kesukuan dan berbasiskan sekularisme, pluralisme, liberalisme dan anti islam digerakkan oleh tokoh-tokoh anggota jaringan Zionis internasional.
Dalam buku yang peredarannya terbatas itu di sebutkan, beberapa tokoh yang kini disebut sebagai pahlawan adalah kaki tangan Zionis, sebut saja Boedi Oetomo, yang tokoh kuncinya adalah anggota jaringan Zionis Internasional, seperti Pangeran Ario Notodirejo yang merupakan anggota Lodge (baca; loji) Mataram dan ketua Boedi Oetomo antara tahun 1911-1914.
Nama lain yang di sebut dalam buku itu antara lain Raden Adipati Tirto Koesoemo, Bupati Karang Anyar yang menjadi anggota Lodge Mataram sejak 1895. Lodge adalah pusat aktifitas para anggota Freemason
Juga ada nama Mas Boediarjo, Raden Mas Toemenggoeng Ario Koesoemo Yoedha, dan salah satu tokoh kemerdekaan Dr Radjiman Wedyodiningrat (Ketua Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia)
RM Adipati Ario Poerbo Hadiningrat, Bupati Semarang termasuk juga di dalamnya. Ia menulis buku berjudul: “Wat Ik als Javaan voor geest an ge moed in de vrijmetselarij heb gevonden” yang berisi tentang pengalaman hidupnya sebagai seorang jawa yang menemukan jiwa dalam organisasi Freemason.
Ada pula nama Sultan Hamengkubuwono VIII, RM AAA Tjokro Adiekoesoemo,RAS Soemiro Kolopaking Poerbonegoro Paku Alam VIII, dan juga Raden Said Soekanto. Nama terakhir ini adalah kepala kepolisian RI pertama yang menjabat pada tahun 29 September 1945 hingga 14 Desember 1959.
Di tahun 1952, saat masih menjabat sebagai Kapolri, Jendral (pol) Soekanto juga aktif menjabat sebagai Suhu Agung (Grandmaster) dari Timur Agung Indonesia atu Federasi Nasional Mason Indonesia. Ia memimpin Loji Indonesia Purwo Daksina. Ia juga menjabat sebagai ketua Yayasan Raden Saleh, yang merupakan penerusan Dari Carpentier Althing Stiching.
Keberadaan jaringan Zionis Internasional ini pernah di bubarkan dan di larang oleh Presiden Soekarno melalui Lembaran Negara dengan Nomor 18/1961, bulan Februari 1961, yang di kuatkan melalui Keppres no.264 tahun 1962. Yang di bubarkan adalah beberapa organisasi yang merupakan jaringan Zionis Internasional Seperti Rosikrusian, Morl Re-armament, Lion Club, Rotary dan Bahaisme dan seluruh Lodge (loji) mereka di sita.
Di era Soeharto, kendati hubungan Diplomatik tidak ada, beberapa tokoh militer dan intellijen berhubungan dengan Israel. Mereka mendapatkan ilmu dari Negara Zionis tersebut.
Ketika Abdurrahman Wahid menjadi presiden, semua hubungan yang putus dengan Israel, dihidupkan kembali dengan mencabut Keppres yang dikeluarkan Soekarno melalui Keppres No 69 Tahun 2000 yang dikeluarkan pada 23 Mei 2000.
Walhasil, gerakan kaum Zionis kian leluasa di Indonesia. Apalagi memasuki era Reformasi. Semua kran dibuka dan tidak ada filter sama sekali terhadap racun yang ingin disebarkan masuk ke Indonesia. Hubungan kerja sama dagang dengan orang-orang Zionis sudah kasat mata. Misalnya: bagaiman Grup Bakri menggandeng perusahaan Rothschild-Yahudi Amerika.
Di Indonesia, para pengemban ide-ide Zionis ini tak lagi berbaju organisasi Zionis, melainkan berbaju liberal dan organisasi-organisasi sosial. Jargon yang di suarakan juga sama yakni kebebasan, persamaan, toleransi, demokrasi, HAM, pluralisme, dan sejenisnya. Tujuan jangka panjangnya adalah mengakui keberadaanya kaum Zionis sebagai satu entitas politik yang harus di akui. Itulah Israel Raya.
Iriana Joko Widodo, istri Jokowi, diduga dilantik menjadi anggota kehormatan Rotary Club (RC) Solo Kartini pada 23 Februari 2012, bersamaan dengan ulang tahun ke-107 Rotary Internasional. Iriana mengaku senang di jadikan anggota ke hormatan karena tertarik dengan kegiatan Rotary Club yang banyak bergelutdi bidang kemanusiaan.
Bukti-bukt bahwa Dahlan termasuk bagian dari jejaring Zionis Yahudi di Indonesia adalah, selain terbaca dari pandangan-pandangannya yang sangat neoliberal, juga dikenal dekat dengan sosok-sosok antek Yahudi yang lain, di antaranya almarhum Nurcholish Madjid. Tentang tokoh yang satu ini, Dahlan pernah berkata begini;
“Saya akan selalu ingat pendapat intelektual muslim Nurcholish Madjid (Cak nur), bahwa bentuk rasa syukur terbaik adalah kerja keras untuk kebaikan. Pendapat yang sama juga datang dari KH Said Aqil Siraj, Ketua umum PB NU dan KH Syukri, pimpinan pondok modern Gontor Ponorogo, bahwa puasa, kerja lebih keras dan menolong orang lain adalah tiga bentuk bersyukur yang paling tinggi.” Pernyataan ini “terekam” di merdeka.com.
Bukti lain lain, dalam situsnya, Lions club memajang foto Dahlan dalam posisi strategis organisasi Lions Club. Dalam diagram organisasi tersebut, entah bagaimana posisi hierarkinya, yang jelas ditengah banyaknya etnis Tionghoa di diagram tersebut, Dahlan Iskan berada di pucuk atas dengan embel-embel president.
Ulil Abshar Abdalla
Pendirian JIL berawal dari kebiasaan Ulil Abshar Abdalla (Lakpesdam NU), Ahmad Sahal (Jurnal Kalam), dan Goenawan Mohamad (ISAI) kongkow-kongkow di Jalan Utan Kayu No 68 H, Jakarta Timur, Februari 2001. Setelah JIL didirikan, tempat ini menjadi markas. Para pemikir muda lain seperti Lutfi Asyyaukani, Ihsan Ali Fauzi, Hamid Basyaib, dan Saiful Mujani, menyusul bergabung. Ulil kemduai ditunjuk sebagai koordinator.Gelora JIL banyak diprakarsai anak muda, usia 20-35-an tahun. Mereka umumnya para mahasiswa, kolomnis, peneliti, atau jurnalis. Tujuan utamanya menyebarkan gagasan Islam liberal seluas-luasnya. “Untuk itu kami memilih bentuk jaringan, bukan organisasi kemasyarakatan, maupun partai politik,” tulis situs islamlib.com.
JIL memiliki sedikitnya 28 kontributor domestik dan luar negeri sebagai “juru kampanye” Islam liberal. Mulai Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Jalaluddin Rakhmat, Said Agiel Siradj, Azyumardi Azra, Masdar F. Mas’udi, sampai Komaruddin Hidayat.Di antara kontributor mancanegaranya: Asghar Ali Engineer (India), Abdullahi Ahmed an-Na’im (Sudan), Mohammed Arkoun (Prancis), dan Abdallah Laroui (Maroko).
Jaringan ini menerbitkan koran, radio, buku, booklet, dan website bagi kontributor untuk mengungkapkan pandangannya kepada publik. Kegiatan pertamanya adalah diskusi maya (milis). Lalu sejak 25 Juni 2001, JIL mengisi rubrik Kajian Utan Kayu di Jawa Pos Minggu, yang juga dimuat 40-an koran segrup. Isinya artikel dan wawancara seputar perspektif Islam liberal.
Tiap Kamis sore, JIL menyiarkan wawancara langsung dan diskusi interaktif dengan para kontributornya, lewat radio 68H dan 15 radio jaringannya. Tema kajiannya berada dalam lingkup agama dan demokrasi. Misalnya jihad, penerapan syariat Islam, tafsir kritis, keadilan gender, jilbab, atau negara sekuler. Perspektif yang disampaikan berujung pada tesis bahwa Islam selaras dengan demokrasi.
Dalam situs islamlib.com dijelaskan, lahirnya JIL sebagai respons atas bangkitnya “ekstremisme” dan “fundamentalisme” agama di Indonesia. Seperti munculnya kelompok militan Islam, perusakan gereja, lahirnya sejumlah media penyuara aspirasi “Islam militan”, serta penggunaan istilah “jihad” sebagai dalil kekerasan.
JIL tak hanya terang-terangan menetapkan musuh pemikirannya, juga lugas mengungkapkan ide-ide “gila”-nya. Gaya kampanyenya menggebrak, menyalak-nyalak, dan provokatif. Akumulasi gaya ini memuncak pada artikel kontroversial Ulil di Kompas yang dituding Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) telah menghina lima pihak sekaligus: Allah, Nabi Muhammad, Islam, ulama, dan umat Islam. “Tulisan saya sengaja provokatif, karena saya berhadapan dengan audiens yang juga provokatif,” kata Ulil.
Dengan gaya demikian, reaksi bermunculan. Tahun 2002 bisa dicatat sebagai tahun paling polemis dalam perjalanan JIL. Spektrumnya beragam: mulai reaksi ancaman mati, somasi, teguran, sampai kritik berbentuk buku. Teguran, misalnya, datang dari rekomendasi (taushiyah) Konferensi Wilayah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur pada 11-13 Oktober 2002. Bunyinya: “Kepada PWNU Jawa Timur agar segera menginstruksikan kepada warga NU mewaspadai dan mencegah pemikiran Islam Liberal dalam masyarakat. Apabila pemikiran Islam Liberal dimunculkan oleh Pengurus NU (di semua tingkatan) diharap ada sanksi, baik berupa teguran keras maupun sanksi organisasi (sekalipun dianulir dari kepengurusan).”
Somasi dilancarkan Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia, Fauzan al-Anshari, kepada RCTI dan SCTV, pada 4 Agustus 2002, karena menayangkan iklan “Islam Warna-warni” dari JIL. Iklan itu pun dibatalkan. Kubu Utan Kayu membalas dengan mengadukan Fauzan ke polisi.
Sementara kritik metodologi datang, salah satunya, dari Haidar Bagir, Direktur Mizan, Bandung. Ia menulis kolom di Republika edisi 20 Maret 2002: “Islam Liberal Butuh Metodologi”. JIL dikatakan tak punya metodologi. Istilah ”liberal”, Haidar menulis, cenderung menjadi ”keranjang yang ke dalamnya apa saja bisa masuk”. Tanpa metodologi yang jelas akan menguatkan kesan, Islam liberal adalah ”konspirasi manipulatif untuk menggerus Islam justru dengan meng-abuse sebutan Islam itu sendiri”.
Reaksi berbentuk buku, selain buku “Bahaya Islam Liberal” karya Hartono, ada pula buku Adian Husaini, “Islam Liberal: Sejarah Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya” (Jakarta, Juni 2002). Ada tiga agenda JIL yang disorot: pengembangan teologi inklusif-pluralis dinilai menyamakan semua agama dan mendangkalkan akidah; isu penolakan syariat Islam dipandang bagian penghancuran global; upaya penghancuran Islam fundamentalis dituding bagian proyek Amerika atas usulan zionis Israel.
Buku lain, karya Adnin Armas, Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Islam Liberal (Jakarta, Agustus 2003). Isinya, kumpulan perdebatan Adnin dengan para aktivis JIL di milis Islam liberal. Energi personel JIL akhirnya memang tersedot untuk meladeni berbagai reaksi sepanjang 2002 itu. Mulai berbentuk adu pernyataan, debat ilmiah, sampai balasan mengadukan Fauzan ke polisi. Tapi, semuanya justru melejitkan popularitas kelompok baru ini.
Menjelang akhir 2003, hiruk-pikuk kontroversi JIL cenderung mereda. Nasib aduan FUUI dan aduan JIL terhadap Fauzan ke Mabes Polri pun menguap begitu saja. Dalam suasana lebih tenang, JIL mulai menempuh fase baru yang lebih konstruktif, tak lagi meledak-ledak.
Antek Yahudi
Liberalisme merupakan doktrin yang dikembangkan Freemasonry. Seperti halnya doktrin lain yang dikembangkan organisasi Yahudi tersebut, liberalisme juga mengusung tujuan dan cita-cita yang sama, yakni memasarkan doktrin humanisme. Karenanya bagi mereka, atas nama kemanusiaan universal, kelompok penoda Islam seperti Ahmadiyah pun harus dibiarkan, tak boleh diganggu gugat.
Paham humanisme adalah doktrin pokok kelompok Freemason. Dalam khoms qanun (lima kanun) yang dijadikan pegangan Freemason, humanisme adalah asas terpenting. Doktrin halus humanisme menyatakan, pengabdian terhadap kemanusiaan harus disertai dengan upaya membuang jauh-jauh sekat-sekat agama. Humanisme menjadi cita-cita tertinggi kelompok Freemason dalam memasarkan ide-idenya untuk tujuan merusak semua agama-agama, termasuk Islam.
Jargon-jargon humanisme, seperti liberalisme dan pluralisme, terkesan bagus dan memikat karena mendorong terciptanya persaudaraan antarumat manusia, kemanusiaan yang universal, kecintaan terhadap prikemanusiaan, persamaan, kasih sayang, toleransi, perdamaian, dan lain sebagainya. Namun sebenarnya tidak begitu karena ada agenda tersembunyi di baliknya. Bagi kelompok Mason, sebuah tatanan dunia yang mengedepankan moralitas bisa terwujud tanpa peran agama. Mereka menyebutnya sebagai ”moralitas tanpa agama”. Bagi para pemuja humanisme, agama tak berhak mengatur urusan moral, dan aturan moralitas bisa terbangun berdasarkan kesepakatan manusia. Karena itu, tak ada yang bisa mengintervensi kehendak manusia dalam bersikap dan berperilaku, termasuk negara dan bahkan Tuhan sekalipun. Humanisme jelas mengabdi pada kemanusiaan.
Paham humanisme mengganggap manusia sebagai makhluk ”superior’ yang berhak menentukan hak-haknya sendiri, termasuk dalam menentukan hukum dalam kehidupan. Nilai-nilai kemanusiaan dalam doktrin Freemason menjadi ”superior” dibandingkan dengan ajaran-ajaran agama. Ajaran-ajaran dalam agama, jika bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, maka harus ditolak. Mereka yang mengusung paham humanisme menganggap tak ada hukum Tuhan, yang ada adalah kodrat alam.
Di Amerika, Ron Paul, kandidat presiden pesaing Barack Obama, bahkan merasa perlu mengeluarkan pernyataan begini; “I am not and never have been a Mason“. di Indonesia, sepertinya masalah Mason/ Freemason tidak dianggap menganggu …
 “Maka insya Allah pendapat saya, keyakinan saya Mr Dur itu murtad, tapi saya tidak memaksa orang berkata begitu. Itu insya Allah berdasarkan dalil-dalil yang kuat dan saya siap diskusi dengan tokoh NU, kyai atau siapa saja, saya tantang diskusi untuk persoalan ini, kalau perlu mubahalah”, tandas ustad Abu Ahad kemarin di masjid Ramadhan Bekasi.
SPB
Sumber :  http://nahimunkar.com/18557/tokoh-tokoh-ini-anggota-freemasonry-1/

Selasa, 18 Desember 2012

Aroma Yahudi Manado yang Kian Merebak

MANADO (Arrahmah.com) - Sebuah tugu baru menjulang setinggi 62 kaki di sebuah puncak dataran tinggi pinggiran kota Manado. Bangunan itu tidak lain sebuah menorah raksasa, yang mungkin ukurannya paling besar di seluruh dunia. Menorah adalah salah satu lambang suci peribadatan Yahudi.
Lama dikenal sebagai daerah yang banyak dihuni penganut dan misionaris Kristen, wilayah tersebut kini semakin banyak menampakkan identitas Yahudi. Dengan restu dari pemerintah daerah setempat, orang-orang keturunan Yahudi Belanda membuat ruang bagi komunitas mereka di kawasan itu.
Bendera-bendera Israel terlihat di pelataran ojek dekat tugu menorah raksasa. Salah satunya terletak di dekat sebuah sinagog yang dibangun sekitar enam tahun lalu. Bintang Daud besar menghiasi langit-langit sinagog itu. Tugu, sinagog dan fasilitasnya semua dibangun dengan biaya dari kas pemerintah daerah.
Sebelum meminta bantuan dari komunitas Yahudi lain di luar Indonesia, kaum Yahudi setempat mempelajari ajaran agama mereka lewat internet. Halaman-halaman Taurat hasil cetakan dari internet mereka kumpulkan. Rekaman video berisi ajaran Yahudi mereka unduh dari YouTube. Mereka bertanya tentang agamanya kepada Rabi Google.
"Kami hanya berusaha menjadi Yahudi yang baik," kata Toar Palilingan, 27, sebagaimana dikutip The New York Times (22/11). Memimpin sebuah acara makan malam perayaaan Sabbath di kediaman keluarganya, Toar mengenakan pakaian ala Yahudi, dengan topi hitam lebar, kemeja putuh dengan setelan jas warna hitam.
Bersama sekitar sepuluh orang Yahudi, mereka biasanya beribadah di sebuah sinagog peninggalan Belanda di pinggiran kota Manado. "Tapi jika dibandingkan dengan Yahudi di Yerusalem atau Brooklyn," kata Toar Palilingan yang kini juga dikenal dengan nama Yaakov Baruch, "kami belum sebanding."
Indonesia dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik, namun sejak berpuluh-puluh tahun lalu secara diam-diam pemerintah telah melakukan kerjasama di bidang militer dan ekonomi dengan negara Zionis itu. Beberapa tahun belakangan, para pengusaha dari Israel dan Yahudi dari negara lain secara diam-diam berkunjung ke Indonesia untuk mencari peluang usaha.
Salah satu di antaranya adalah Moshe Kotel. Pria berusia 47 tahun ini lahir di El Salvador namun memiliki kewarganegaraan Israel dan Amerika Serikat. Dia telah mengunjungi Manado setiap tahun sejak 2003 dan memiliki bisnis telur organik. Kotel yang memiliki istri orang Manado mengatakan gugup, ketika pertama kali mendarat di bandara setempat.
"Waktu itu sudah pukul 11 malam. Dan saya membawa tefilin," cerita Kotel. Tefilin adalah sepasang kotak kulit kecil hitam tempat menyimpan gulungan perkamen berisi ayat-ayat Torah yang biasa dililitkan di tangan dan lengan ketika mereka membaca kitab sucinya.
"Tapi setelah melihat ada bendera-bendera Israel di taksi-taksi bandara, saya selalu merasa diterima di sini," katanya. Pemerintah Sulawesi Utara mendirikan tugu menorah itu tahun lalu dengan biaya 150 ribu dolar AS, kata Margarita Rumokoy, kepala Dinas Pariwisata setempat.
Denny Wowiling, seorang anggota DPRD, mengatakan dirinya mengajukan pembangunan menorah itu setelah melihat tugu serupa yang terdapat di depan gendung Knesset di Israel. Katanya, dia berharap tugu itu dapat menarik turis-turis dan pengusaha dari Eropa berkunjung ke daerahnya. "Agar orang-orang Yahudi melihat bahwa ada simbol sakral ini, simbol sakral mereka, di luar negaranya," kata Denny yang seorang penganut Kristen Pantekosta.
Dua tahun sebelum menorah raksasa itu didirikan, sebuah developer Kristen juga mendirikan patung Yesus setinggi 98 kaki di puncak sebuah bukit di sana. Ukurannya sekitar 3/4 dari patung Kristus Redeemer yang terkenal dari kota Rio de Janeiro.
Menurut Anthony Reid, seorang pakar masalah Asia Tenggara di Universitas Nasional Australia, pada masa penjajahan Belanda komunitas Yahudi menguasai bisnis di banyak kota dagang di Indonesia. Seringkali mereka menjalani usaha real estate, bertindak sebagai penghubung antara pemerintah kolonial dan penguasa setempat.
Pada masa sebelum kemerdekaan, keluarga keturunan Yahudi Belanda di Menado menjalankan agama mereka secara terang-terangan. Setelah itu mereka pindah agama Kristen atau Islam dengan alasan untuk keamanan. "Kami menyuruh anak-anak agar jangan pernah bicara tentang leluhur Yahudi kami," kata Leo van Beugen, 70, yang dibesarkan sebagai pengikut Katolik Roma. "Jadi cucu-cucu tidak tahu." Van Beugen adalah kakek-pamannya Toar Palilingan.
Baru lebih dari sepuluh tahun lalu, ketika mereka berdebat tentang Bibel dan Musa, nenek-bibinya mengungkap tentang darah Yahudi mereka. Toar Palilingan yang bekerja sebagai dosen di Universitas Sam Ratulangi, memiliki ayah seorang Kristiani dan ibu seorang Muslim. Mereka juga menjadi dosen di tempat yang sama. Saudara dari keluarga ibunya merupakan keturunan imigran Yahudi Belanda abad ke-19, Elias van Beugen.
Nenek-bibinya menyarankan Toar menemui keluarga Bollegraf, salah satu keluarga Yahudi terpandang di Menado. Oral Bollegraf yang kini berusia 50 tahun, menganut Kristen Pantekosta sepanjang hidupnya, tapi dia tahu bahwa kakeknya adalah orang yang memelihara satu-satunya sinagog di Menado di rumah keluarganya.
"Dulu kami tidak tahu kalau kami Yahudi," kata Bellograf yang belum lama ini mengunjungi Israel bersama Toar Palilingan. "Tapi semua orang di kota ini mengetahui kami keluarga Yahudi." Toar melakukan kontak dengan rabi Mordechai Abergel, seorang utusan gerakan Chabad Labavitch di Singapura. Chabad Lubavitch sendiri bermarkas di Brooklyn, Amerika Serikat. Menurut Abergel, Toar Palilingan telah melakukan sebuah "usaha yang hebat" untuk menyambung kembali akar Yahudinya, meskipun dia belum melakukan perpindahan agama secara penuh.
Untuk menunjukkan komitmennya pada apa yang dia sebut sebagai 'kemurnian' ajaran Yahudi ultra Ortodoks, Toar Palilingan kadang mengenakan pakaian khas Yahudi berupa setelan warna hitam putih saat berada di tempat-tempat umum di Manado, bahkan ketika dia berada di Jakarta. "Kebanyakan orang Indonesia belum pernah bertemu orang Yahudi, jadi mereka mengira saya dari Iran atau tempat lain," kata Toar. (republika/arrahmah.com)

Sumber :http://arrahmah.com/read/2010/12/02/10129-aroma-yahudi-manado-yang-kian-merebak.html