Saif Al Battar
Selasa, 12 Juni 2012 09:31:53
(Arrahmah.com)
- Begitu terjadi serangan 11 September, para pemimpin AS langsung
menuduh sebagian kaum muslimin "Al-Qaedah" sebagai pelaku serangan
tersebut. Tanpa pembuktian yang obyektif, akurat dan memadai, mereka
langsung mempersiapkan perang besar-besaran melawan kaum muslimin
"Afghanistan", dengan mengatas namakan perang melawan teroris. Satu
bulan kemudian, Oktober 2001 M, AS dan Inggris langsung "tancap gas",
menyerbu Afghanistan. Setelah berhasil meruntuhkan Thaliban dan membuat
pemerintahan boneka loyalis AS, AS langsung membidik Iraq.
Hasilnya,
dengan dukungan beberapa negara sekutunya, tahun 2003 M yang lalu AS
berhasil menggulingkan rezim Saddam, membentuk pemerintahan boneka
loyalis AS, dan menjajah Iraq.
Sekalipun tujuan mereka jelas-jelas memerangi Islam dan kaum
muslimin, sebagian orang yang polos (atau munafikun ??/) masih saja
tertipu, menganggap perang ini adalah perang melawan para "teroris",
yaitu kaum fundamentalis Islam yang melakukan kekerasan terhadap warga
sipil tak berdosa di sana sini.
Untuk menyingkap tabir kepalsuan slogan "perang melawan terorisme"
yang menipu sebagian kaum muslimin, dibawah ini disampaikan sebagian
kecil bukti yang menunjukkan bahwa perang ini adalah perang salib
modern, perang melawan Islam dan kaum muslimin.
Bukti-Bukti Khusus
Beberapa pernyataan para pejabat tinggi AS dan sekutunya menunjukkan,
sejatinya peperangan ini adalah perang salib modern melawan Islam. Di
antaranya adalah :
[1]- Pertama :
Presiden George W. Bush sendiri secara terang-terangan, dalam jumpa
pers lima hari pasca serangan 11 September, tepatnya Ahad, 16/11/2001 M
(28/6/1422 H) menegaskan,
" This Crusade, this war on terrorism, is going to take a long time."
(Perang salib ini, perang melawan terorisme ini, akan memakan waktu
yang lama, BBC 16/9/2001 M). Begitu jelas dan tegas, namun justru
sebagian kaum muslimin yang polos atau munafikun sibuk mencari-cari
alasan untuk memalingkan penegasan Bush. Mereka mengatakan," Itu
diucapkan karena marah…ia keseleo lidah…" dan alasan-alasan lainnya.
Padahal, Bush hanyalah mengungkapkan ideologi yang diyakininya.
Seandainya ia bisa mengungkapkan dengan istilah lain yang lebih jahat
dan keji, ia akan mengungkapkannya. Allah Ta'ala berfirman :
قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ
" Dan sungguh telah nampak
kebencian yang sangat dari mulut-mulut mereka, dan apa yang
disembunyikan oleh dada-dada mereka lebih besar lagi." (QS Ali Imran ;118).
[2]- Kedua :
Ucapan yang senada, juga telah diucapkan oleh mantan PM Inggris
Margaret Tatcher dan PM Inggris Silvio Berlusconi, beberapa hari setelah
tragedi 11 September. Mereka berbicara tentang agama Islam, bukan
tentang teroris. Ungkapan Berlusconi adalah," Islam menolak pluralisme,
mengajak kepada rasisme dan mendorong terorisme." Jika menurut mereka
Islam mendorong terorisme, dan perang salib ini dilancarkan untuk
memerangi terorisme, maka hasilnya adalah sama ! Perang melawan
terorisme = perang melawan Islam !
[3]- Ketiga :
Setelah tragedi 11 September, Bush memberikan pidato selama 34 menit
di hadapan Konggres. Dalam pidato yang diselingi oleh 29 kali aplaus
anggota konggres tersebut, Bush berbicara tentang peperangan melawan
terorisme. Sebenarnya, ia berbicara tentang perang melawan Islam, karena
saat itu ia berbicara tentang syariat Islam yang diterapkan oleh
Thaliban ---bukan berbicara tentang Thaliban sendiri--- ; pelarangan
memotong jenggot, pewajiban hijab, pelarangan musik, lagu, bioskop dan
dan lain-lain. Ini semua adalah ajaran Islam, bagian dari syariat Allah
dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam, bukan undang-undang Mulah
Umar semata.
[4]- Keempat :
Istilah-istilah yang dipergunakan oleh Bush dan sekutu-sekutunya
dalam perang ini adalah istilah-istilah Taurat (perjanjian lama),
seperti istilah "perang melawan kejahatan", "kekuatan kebajikan melawan
kekuatan kejahatan", "peperangan orang-orang baik melawan orang-orang
jahat", dan istilah-istilah serupa.
[5]- Kelima :
Rakyat AS dan Barat melakukan intimidasi kepada kaum muslimin di
Barat ; membunuh sebagian muslim, memukuli, mengeroyok, merusak
toko-toko, membakar masjid dan tindakan-tindakan anarkis lainnya.
Padahal mereka mengetahui, kaum muslimin tersebut tidak mempunyai
kesalahan apapun atas terjadinya serangan tersebut. Para "Teroris" yang
mereka maksud berada di jauh sana, di goa-goa di Afghanistan. Namun
karena kesamaan sifat "beragama Islam" inilah, mereka disakiti. Tindakan
anarkis dan arogan ini juga dilakukan oleh pemerintah mereka.
Pemerintah AS dan negara-negara Barat melakukan penangkapan,
penggerebekan dan penahanan seenaknya kepada kaum muslimin.
[6]- Keenam ;
Para jurnalis AS dan Barat juga menyebutkan bahwa perang ini adalah
perang melawan Islam. Di antaranya, wartawan David Silburn menulis
dengan judul " Perang ini bukan melawan Terorisme, melainkan melawan
Islam." Majalah National Report menulis judul " Inilah Perang, Mari
Menyerbu Mereka di negerinya". Dalam artikel tersebut, ditulis :"Bangsa
kita telah diserang oleh sekelompok ekstrimis kriminil, kita harus
menyerbu mereka di negeri mereka, membunuh pemimpin-pemimpin mereka dan
memaksa mereka memeluk agama Masehi."
Harian New York Times edisi 7/10/2001 M memuat headline sepanjang
enam halaman, dengan tajuk " Ini adalah perang agama." Judul cover
harian tersebut adalah " Siapa mengatakan ini bukan perang agama?".
Penulis artikel ini, Andrew Sulivan, menulis dalam artikelnya bahwa
perang kali ini adalah perang agama. Artikel-artikel serupa begitu
bertebaran di berbagai media massa Barat.
[7]. Ketujuh :
AS mengumumkan target serangan pertama adalah 27 target, kesemuanya adalah perorangan dan organisasi Islam !
[8]- Kedelapan
AS menyebutkan, jumlah negara yang melindungi terorisme ada 60
negara, sementara jumlah negara "Islam" hanya 56 negara. Jika jumlah ini
ditambah dengan beberapa negara yang di dalamnya ada gerakan jihad
Islam, seperti Filipina, Macedonia dan lain-lain, maka genaplah jumlah
ini menjadi 60 negara.
[9] Kesembilan
AS mengumumkan bahwa serangan kepada Afghanistan hanyalah bagian
kecil dari peperangan luas mereka terhadap terorisme. Di antaranya
adalah pernyataan Richard Meyer, kepala staf gabungan pasukan koalisi
pada hari Ahad, 22/10/2001 M (5/8/1422 H) saat menjawab pertanyaan
stasiun TV ABC "Apa target selain Afghanistan ?". Ia menjawab," Ini
adalah perang internasional melawan terorisme dan senjata pemusnah
masal. Afghanistan hanyalah satu bagian kecil. Karena itu, kami pasti
berfikir dalam skala lebih luas. Bisa saya katakan, bahwa sejak Perang
Dunia Kedua, kita belum pernah berfikir seluas sekarang."
[10]. Kesepuluh
AS menyatakan tujuan perang ini adalah membasmi terorisme sampai ke
akar-akarnya. Mereka juga menyatakan, target-target yang telah mereka
bidik adalah gerakan teroris. Pertanyaannya, kenapa mereka tidak
menyentuh sedikitpun gerakan-gerakan teroris non Islam, seperti :
- Tentara Merah Jepang : Paganis.
- Tentara Republik Irlandia Utara (IRA) : Katolik.
- Tentara Pembebasan Kuba : Komunis.
- Ekstrimis Sayap Kiri Masehi AS : Protestan.
- Sindikat-sindikat Narkotika di Amerika Latin.
- Dan kelompok teroris lainnya ????
Jawabannya jelas, karena gerakan-gerakan teroris ini bukan gerakan Islam.
[11]. Kesebelas :
AS menyebutkan gerakan-gerakan Islam yang melawan penjajah asing
seperti mujahidin Kashmir yang melawan penjajah Hindu, mujahidin
Filiphina yang melawan rezim Nasrani Filiphina, dan mujahidin Palestina
yang melawan penjajah zionis. Pertanyaannya, jika perlawanan lokal
kepada pemerintah adalah terorisme, kenapa AS membiarkan :
- Gerilyawan Macan Tamil Srilangka : paganis.
- Pasukan Pembebasan Rakyat Sudan Selatan (SPLA): Kristen.
- Tentara Republik Irlandia di Inggris : Kristen.
- dan lain-lain ????
Jawabannya jelas, gerakan-gerakan ini bukan gerakan Islam.
[12]. Kedua Belas :
Mereka mengerahkan seluruh negara anggota NATO, ditambah Rusia,
China, Jepang, Korea Selatan, India, Australia dan lain-lain. Sebagian
membantu dengan dana, sebagian dengan dukungan politis, sebagian dengan
pangkalan-pangkalan militer, dan sebagian dengan bantuan militer. AS
sendiri mengerahkan sekitar 1/3 kekuatan militernya. Apakah untuk
menangkap satu orang "Usamah", atau meruntuhkan satu pemerintahan yang
paling miskin dan paling tertingal di dunia "Taliban", harus mengerahkan
kekuatan militer sekian puluh negara ?
Jawabannya tentu jelas bagi
setiap orang waras, tujuan pengerahan pasukan ini bukan sekedar untuk
menangkap seorang atau meruntuhkan sebuah pemerintahan. Tujuan
sebenarnya, tak lain adalah menghancurkan setiap negara Islam,
pergerakan Islam atau jihad Islam di tempat manapun di kawasan kaum
muslimin.
[13]. Ketiga Belas :
Setelah runtuhnya Soviet dan berakhirnya perang dingin, Barat
menganggap Islam sebagai musuh utama. Para pemimpin mereka telah
menegaskan hal ini. Para pemikir mereka juga telah mengarang banyak buku
tentang hal ini, di antaranya :
- Samuel Huntington dalam "The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order", terbit 1996 M.
- Francis Fukuyama dalam "The End of History and The Last Man", terbit 1999 M.
- Charles E. Carlson dalam "Attacking Islam", terbit 1994 M.
- Jack Miles dalam "Theology and The The Clash of Civilizations", terbit 2002 M.
- Benjamin F. Barber dalam "Jihad vs Mc World, How The Globalism and Tribalism Are Reshaping The World", terbit 2002 M.
- Judith Miller dalam "Is Islam Threat ?", terbit 1993 M.
- Daniel Pipes dalam "Fundamentalist Moslems Between America and Russia", terbit 1986 M.
Para
pemikir dan cendekiawan ini bukan sembarang penulis biasa.
Tulisan-tulisan mereka menjadi bahan pertimbangan para pembuat kebijakan
dalam pemerintahan AS.
Huntington, misalnya, adalah seorang guru
besar studi-studi strategis di Harvard University. Buku yang ditulisnya
ini merupakan salah satu buku paling berpengaruh dalam wacana para
ilmuwan dan para pengambil kebijakan pemerintahan Barat. Henry
Kissinger, mantan Mentri Luar Negeri AS, memuji buku tersebut dengan
menulis :
" One of the most important books to have emerged since the end of
tha cold war." (Salah satu buku terpenting yang terbit sejak berakhirnya
Perang Dingin).
Fukuyama, misalnya, adalah guru besar George Mason University, Deputi
Direktur Urusan Politik Militer AS dan staf perencanaan kebijakan
Departemen Luar Negeri AS.
Dalam bukunya yang berjudul "1999 menang
tanpa peperangan", mantan presiden AS Richard Nixon menulis," Di dunia
Islam, sejak Maroko sampai Indonesia, kaum fundamentalis Islam
menggantikan peran komunisme sebagai alat pokok perubahan radikal."
Mantan Sekjen NATO, Jeifer Solanes dalam pertemuan NATO tahun 1991 M
setelah runtuhnya Soviet mengatakan," Setelah perang dingin selesai dan
musuh beruang merah runtuh, seluruh negara NATO dan Eropa harus
melupakan perselisihan di antara mereka, dan mulai mengalihkan
perhatiannya ke depan untuk melihat musuh yang sedang mengintainya.
Negara NATO dan Eropa harus bersatu untuk menghadapinya. Itulah kaum
fundamentalis Islam."
Presiden Rusia dari kalangan Kristen Orodoks, Vladimir Putin, dalam
pertemuan terakhirnya dengan negara-negara persemakmuran (Commonwealth)
tahun 2000 M mengatakan," Sesungguhnya kaum fundamentalis Islam adalah
satu-satunya bahaya yang hari ini mengancam negara-negara dunia maju.
Inilah satu-satunya bahaya yang mengancam tatanan keamanan dan
perdamaian dunia. Kaum fundamentalis mempunyai pengaruh. Mereka berusaha
untuk mendirikan sebuah negara Islam yang membentang sejak Filipina
sampai Kosovo. Mereka bergerak dari Afghanistan, sebagai pangkalan
pergerakan mereka. Jika dunia tidak bangkit menghadapinya, ia bisa saja
merealisasikan targetnya. Oleh karena itu, Rusia membutuhkan dukungan
internasional untuk membasmi fundamentalis Islam di Kaukasus Utara."
[14]- Keempat Belas
Banyak pejabat pemerintahan AS meyakini akan terjadinya perang
internasional yang mereka kenal dengan nama "Armagedon". Yaitu
peperangan antara kekuatan kebaikan (Nasrani) melawan kekuatan kejahatan
(Islam). Di antara yang paling bersemangat membicarakan Armagedon
adalah mentri pertahanan saat ini, Donald Rumshfeld.[1]
Sedikit kutipan ini menjadi bukti, bahwa peperangan melawan terorisme
yang hari ini dikomandoi AS, disetujui dan didukung oleh lebih dari 95 %
negara anggota PBB ini, sebenarnya adalah perang melawan Islam dan kaum
muslimin. Afghanistan, Iraq, Al-Qaedah, Jama'ah Islamiyah dan entah
nama apa lagi, hanyalah target antara dan batu loncatan awal. Daftar
selanjutnya masih panjang dan bertingkat. Rangking teratas ditempati
oleh berbagai gerakan
salafiyah jihadiyah di dunia. Selanjutnya gerakan-gerakan
salafiyah ishlahiyah, lalu
salafiyah tarbiyah dan
seterusnya, sampai mengenai berbagai gerakan Islam damai yang menempuh
jalur perjuangan demokrasi sekalipun. Lambat, namun pasti, semua umat
Islam yang tidak tunduk kepada ideologi dan kemauan Barat akan
merasakannya.
Bukti-Bukti UmumDalil-dalil
syar'i dan realita sejarah menjadi bukti umum bahwa perang melawan
terorisme yang saat ini dilancarkan oleh aliansi kekuatan
salibis-zionis-paganis-kamunis internasional, sejatinya adalah perang
melawan Islam dan kaum muslimin.
[
1]. Dalil-dalil Syar'i
Allah Ta'ala telah menegaskan bahwa orang-orang kafir akan senantiasa
memusuhi dan memerangi kaum muslimin, sehingga mereka mampu memurtadkan
kaum muslimin. Mereka tidak akan pernah puas, sampai kaum muslimin
mengikuti ideologi kekafiran mereka, baik "ideologi samawi" (Yahudi dan
Nasrani), maupun "ideologi ardhi" (demokrasi, sekulerisme, kapitalisme,
sosialisme, komunisme, liberalisme, pluralisme, nasionalisme, humanisme,
Hindhu, Budha, dan seterusnya). Allah Ta'ala berfirman :
وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا.
Mereka
tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan
kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. (QS. Al-Baqarah :217).
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ .
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. (QS. Al-Baqarah :120).
وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً.
Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). (QS. An-Nisa' :89).
إِنْ يَثْقَفُوكُمْ
يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءً وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ
وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ.
Jika
mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu
dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu);
dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. (QS. Al-Mumtahanah :2).
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ
أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّاراً
حَسَداً مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ
الْحَقّ.
Sebagian
besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu
kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari
diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. (QS. Al-baqarah :109).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقاً مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ
يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِين
Hai
orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari
orang-orang yang diberi Ahli Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan
kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. (QS. Ali Imran :100).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ.
Hai
orang-orang yang beriman, jika kamu menta'ati orang-orang yang kafir
itu, niscaya mereka mengembalikan kamu kebelakang (kepada kekafiran),
lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. (QS Ali Imran :149).
وقال تعالى قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ.
Telah nyata kebencian dari
mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar
lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu
memahaminya. (QS. Ali Imran ;118).
[2]. Realita Sejarah
Sejarah telah membuktikan permusuhan dan peperangan kaum Nasrani,
Yahudi dan musyrikin kepada umat Islam. Dalam beberapa abad yang lalu,
kaum Nasrani telah melancarkan tujuh kali perang salib terhadap dunia
Islam. Beberapa abad kemudian, mereka datang ke dunia Islam dengan
format baru "imperialisme dan kolonialisme moden". Sebagian besar dunia
Islam mereka jajah, kekayaan alamnya dirampas, kemerdekaan agama
dicabuli dan sekulerisme mereka paksakan kepada umat Islam.
Setelah
menghadapi berbagai perlawanan jihad sengit kaum muslimin, mereka
hengkang dari dunia Islam dengan menanam anak didik bangsa pribumi yang
telah ter-Baratkan. Tidak puas dengan penjajahan secara tidak langsung
ini, mereka bekerja lewat payung PBB untuk memerangi umat Islam. Dengan
mengeluarkan berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB, mereka melakukan
invasi militer, embargo ekonomi dan tekanan politis kepada kaum
muslimin.
Embargo ekonomi kepada kaum muslimin Iraq selama lebih dari sepuluh
tahun telah menghancurkan kehidupan rakyat muslim Iraq. Begitu juga
embargo terhadap Afghanistan, Sudan, Libia dan lainnya, telah menimpakan
kesengsaraan luar biasa kepada umat Islam. Penanaman negara "haram"
Israel di Palestina, telah berjalan lebih dari setengah abad.
Pembantaian terhadap kaum muslimin baik secara langsung maupun tidak
langsung, mereka lakukan di Sudan. Libia, Lebanon, Somalia, Afghanistan,
Bosnia Herzegovina, Kosovo, Macedonia, Chechnya, Kashmir, Patani, Timor
Timur, Poso, Ambon, Maluku Utara, dan lain-lain. Jutaan kaum muslimin
mereka bunuh, jutaan lainnya mereka paksa menjadi pengungsi yang
terkatung-katung.
Seluruh kejahatan salibis ini, masih ditambah dengan pemurtadan lewat
gerakan orientalis, kristenisasi dan misionaris. Jutaan umat Islam
mereka murtadkan. Alhasil, mereka memaksakan kekafiran kepada umat Islam
lewat semua cara yang mereka bisa. Di bawah ini dikutip sedikit bukti
makar mereka kepada umat Islam, yang disampaikan oleh tokoh-tokoh agama,
politik, militer dan pemerintahan mereka sejak dahulu.
Perang Salib Terus Berlangsung
Wiliam Cohen, mantan mentri pertahanan AS dalam kunjungannya ke salah
satu pangkalan militer AS di Saudi Arabia, 9/2/1418 H, mengatakan di
hadapan pasukan AS,"Saya yakin banyak di antara kalian yang selalu
bertanya-tanya tentang alasan keberadaannya di sini, benarkah sebuah
kepentingan yang mendesak ? Jawabannya, ya. Timur Tengah adalah kawasan
yang sangat penting (bagi ekonomi kita) dan bagi negara-negara lain.
Negara kita harus menjaga sumber-sumber minyak bumi di Teluk, oleh
karenanya stabilitas kawasan ini tetap menjadi prioritas untuk jangka
waktu yang lama."
- Graham Flord, seorang penasehat
politik senior di Institut Rant Washington, dan wakil ketua dewan
intelijen nasional di CIA dalam artikelnya yang berjudul "Krisis dalam
Hubungan AS-Arab Saudi", tanggal 9/11/1422 H, menulis," Untuk pertama
kalinya, media massa AS menyerang Wahabi sebagai sebuah gerakan
keagamaan anti toleransi dan sumber geakan-gerakan jihad di dunia.
Sebagian pengamat menilai, ideologi Arab Saudi melahirkan banyak orang
seperti Bin Laden."
- Eugene Rostew, ketua bagian
perencanaan departemen luar negeri AS, asisten mentri luar negeri AS dan
penasehat mantan presiden AS Lyndon B. Johnson untuk urusan Timur
Tengah sampai periode 1967 M, mengatakan,"Kita harus menyadari,
bahwa perselisihan kita dengan bangsa-bangsa Arab bukanlah perselisihan
antar negara. Ia adalah perselisihan antara peradaban Islam dan
peradaban Masehi. Benturan antara Masehi dan Islam sudah berlangsung
sejak abad-abad pertengahan, dan terus berlangsung sampai saat ini,
dengan beraneka ragam bentuk. Sejak satu setengah abad yang lalu, Islam
telah tunduk kepada hegemoni Barat. Literatur Islam telah tunduk kepada
literatur Masehi." Ia melanjutkan," Fakta-fakta sejarah
menegaskan bahwa AS adalah bagian yang melengkapi dunia Barat, baik
filsafat, ideologi maupun sistem kehidupannya. Hal ini menjadikan AS
dalam pihak yang berlawanan dengan dunia Timur Islam, dengan filsafat
dan ideologi yang diperankan oleh agama Islam. Tidak ada sikap lain, AS
harus berada di pihak yang berlawanan dengan Islam, berada di pihak
dunia Barat dan negara Zionis. Karena bila AS berada di pihak
sebaliknya, AS telah mengingkari bahasa, filsafat, kebudayaan dan
pemerintahannya sendiri." Rostew menyebutkan, tujuan penjajahan
Barat adalah menghancurkan peradaban Islam, dan tegaknya Israel hanyalah
satu bagian dari rencana Barat, sebagai tindak lanjut dari perang salib
sebelumnya.
- Peterson Smith dalam bukunya "Kehidupan Kebangsaan Al-Masih" menulis : Perang-perang
salib terdahulu telah gagal, namun sebuah peristiwa penting terjadi
setelah itu, yaitu ketika Inggris mengirim pasukan salib kedelapan, dan
pasukan ini meraih kemenangan. Serangan jendral Allenby ke kota Al-Quds
selama Perang Dunia Pertama, merupakan perang salib kedelapan, dan
terakhir." Koran-koran Inggris menampilkan foto jendral Edmunt
Allenby, lengkap dengan statemennya yang mendunia "Kini, Perang Salib
Baru Telah Usai". Sikap Allenby ini juga menjadi cerminan sikap
pemerintahan Inggris, karena koran-koran Inggris juga menulis "Mentri
Luar Negeri Inggris, Lewit George, menyambut hangat jendral Allenby di
Parlemen Inggris, atas keberhasilannya meraih kemenangan dalam perang
salib yang terakhir, yang disebut oleh Lewit George sebagai perang salib
kedelapan."
- Pasukan Perancis juga menganggap
perang dunia I sebagai perang salib. Setelah mengalahkan pasukan Islam
di luar kota Damaskus, komandan pasukan Perancis Jendral Joffre segera
mendatangi makam Shalahudien Al-Ayubi di Masjid Jami' Al-Umawi.
Diinjaknya makam Shalahudien, sembari mengejek,"Lihatlah ! Ini kami
sudah datang, hai Shalahudin !"
- Mentri Luar Negeri Perancis, Moshe
Vido, saat menerima kunjungan konfirmasi anggota parlemen Perancis
sehubungan perang yang meletus di Marakisy, Maroko, mengatakan," Ini
adalah perang antara bulan sabit dan salib."
- Saat kota Al-Quds jatuh ke tangan
tentara Israel tahun 1967 M, Randolf Churchil mengatakan," Sejak dahulu,
pembebasan Al-Quds dari kekuasaan Islam merupakan mimpi kaum Masehi dan
Yahudi. Sukacita kaum Masehi, tidak kalah dengan sukacita kaum Yahudi,
karena Al-Quds telah dilepaskan dari tangan orang-orang Islam. Kneset
Yahudi telah menetapkan tiga ketetapan yang memasukkan Al-Quds ke dalam
Yahudi. Ia tidak akan pernah kembali kepada orang-orang Islam, dalam
perundingan apapun antara orang-orang Islam dan Yahudi di masa
mendatang."
- Setelah memasuki kota Al-Quds di
tahun 1967 M tersebut, pasukan Israel dipimpin Mosye Dayan berkumpul di
tembok ratapan dan bersorak-sorak," Hari ini adalah pembalasan hari
Khaibar…Khaibar telah terbayarkan", "Muhammad telah mati…meninggalkan
anak-anak perempuan."
- Israel juga memancing dan menggugah
kembali semangat perang salib Barat. Orang-orang Yahudi di Paris
mengadakan demonstrasi sebelum perang 1967 M. Dipimpin para tokoh pro
Israel, di antaranya Jean Paul Sartre, mereka membawa spanduk-spanduk
bertuliskan tiga kata "Perangi Orang Islam". Kotak-kotak sumbangan untuk
perang Israel juga ditulisi semboyan yang sama. Hasilnya luar biasa !
Hanya dalam masa empat hari saja, warga Perancis menyumbangkan 10 juta
Frank ! Kaum Yahudi juga mencetak jutaan selebaran bertuliskan
"Kekalahan Bulan Sabit"…sebagai dukungan kepada kaum zionis yang
melanjutkan misi tentara salib di Timur Tengah, yaitu memerangi Islam
dan menghancurkan kaum muslimin."
Islam, Satu-satunya Tembok Penghalang
Kaum Nasrani dan Yahudi senantiasa meyakini kesinambungan perang
salib, karena meyakini Islam sebagai satu-satunya tembok penghalang
keinginan mereka untuk mendominasi dan memegang hegemoni dunia.
- Islam adalah satu-satunya tembok penghalang imperialisme salibis Barat.
- Laurence Brown berkata," Sesungguhnya Islam adalah satu-satunya tembok yang menghalangi imperialisme Eropa."
- William Ewart Gladstone, mantan
perdana menteri Inggris selama empat periode, mengatakan," Selama
Al-Qur'an masih berada di tangan kaum muslimin, Eropa tidak akan sanggup
menguasai Timur."
- Gubernur Jendral Perancis di
Aljazair, dalam peringatan seratus tahun pendudukan Perancis atas
Aljazair, mengatakan," Kita tidak akan bisa mengalahkan orang-orang
Aljazair selama mereka masih membaca Al-Qur'an dan berbicara dnegan
Bahasa Arab. Mak, kita wajib menghilangkan Al-Qur'an Arab dari
keberadaan mereka, juga mencabut sampai ke akar-akarnya Bahasa Arab dari
lidah mereka."
- Islam adalah satu-satunya tembok penghalang komunisme.
Dalam pembukaan edisi 22 tahun 1952
harian Keizel Uzbekistan, koran milik partai komunis Uzbekistan, dewan
redaksi menulis,"Mustahil mensosialisasikan komunisme sebelum Islam
diberantas tuntas."
- Islam adalah tembok penghalang kristenisasi dan penjajahan Barat di dunia Islam
- Seorang misionaris mengatakan,"
Sesungguhnya kekuatan yang dikandung oleh Islam telah menjadi batu
penghalang penyebaran agama masehi, kekuatan inilah yang telah
menundukkan negeri-negeri yang semula tundauk kepada Nasrani."
- Esiac Pouman, dalam artikelnya di
majalah misionaris "Dunia Islam" menulis," Belum pernah terjadi, sebuah
bangsa masehi yang masuk Islam, kemudian kembali masuk Nasrani."
- Islam adalah batu penghalang terbesar keberadaan negara Israel :
- Ben Gurion, mantan perdana mentri
Israel, mengatakan," Hal yang paling kita takutkan adalah bila di dunia
Arab muncul Muhammad baru."
- Seorang penulis Yahudi, April Boger
dalam bukunya "Perjanjian dan Pedang", menulis: Prinsip yang menjadi
asas tegaknya negara Irael sejak awal adalah bangsa Arab harus bekerja
sama dengan Israel pada suatu hari nanti. Supaya kerjasama ini bisa
dilaksanakan, seluruh unsur yang mendorong munculnya kebencian kepada
Israel di dunia Arab harus diberangus. Itulah unsur-unsur primitif yang
terwujud dalam diri para tokoh agama dan masyayikh."
- Sehari setelah Jimmy Carter terpilih
sebagai presiden AS, dalam pernyataan yang diliput seluruh kantor
berita dunia, Ben Gurion (perdana mentri Israel) mengatakan," Problem
bangsa Yahudi adalah bahwa agama Islam masih senantiasa memusuhi dan
memperluas diri. Hal ini tidak bisa dicarikan solusi, sekalipun dalam
jangka waktu yang panjang, selama Islam belum menanggalkan pedangnya."
Islam, satu-satunya musuh
Mereka tidak hanya meyakini Islam sebagai tembok penghalang keinginan
mereka untuk menjajah dunia semata. Mereka juga meyakini, Islam adalah
musuh besar mereka dalam negeri.
- Laurence Brown berkata : Dahulu para
pemimpin kita menakut-nakuti kita dengan banyak bangsa, namun
pengalaman kita membuktikan ketakutan tersebut sama sekali tidak
beralasan. Mereka menakut-nakuti kita dengan bahaya Yahudi, bahaya
bangsa "kuning" Jepang dan bahaya Bolsevick. Namun setelah itu terbukti,
bangsa Yahudi adalah sahabat-sahabat kita, bangsa komunis Bolsevick
aalah sekutu-sekutu kita. Sementara bangsa Jepang, telah ada banyak
negara demokratis besar yang sudah menghadapinya. Kita justru mendapati
musuh sebenarnya adalah Islam ; kemampuannya untuk meluas, menundukkan
dan mobilitasnya yang menakjubkan.
- Gladstone berkata," Selama Al-Qur'an
ini masih berada di tangan kaum muslimin, Eropa tidak akan bisa
menguasai Timur, pun tak akan bisa merasakan keamanan."
- Orientalis Gardener mengatakan," Kekuatan yang dikandung Islamlah yang menggentarkan Eropa."
- Dalam sebuah jumpa pers, Salazar
berkata," Bahaya yang sebenarnya mengancam peradaban kita adalah bahaya
yang mungkin akan ditimbulkan oleh kaum muslimin saat mereka merubah
tatanan dunia." Seorang wartawan menyela," Bukankah kaum muslimin
disibukkan dengan perselisihan intern mereka ?" Salazar menjawab," Saya
khawatir, ada di antara mereka yang mengarahkan konflik intern mereka
kepada kita."
- Moro Berger, dalam bukunya " Dunia
Arab Kontemporer" menulis," Sesungguhnya kekhawatiran terhadap bangsa
Arab dan perhatian kita dengan dunia Arab, bukan disebabkan oleh
banyaknya minyak bumi di tengah bangsa Arab, melainkan karena Islam.
Kita harus memerangi Islam, untuk mencegah bersatunya bangsa Arab. Bila
Arab bersatu, bangsa Arab akan kuat. Perlu diingat, kekuatan bangsa Arab
selalu seiring dengan kekuatan, kejayaan dan penyebaran Islam. Islam
mengejutkan kita ketika bisa menyebar dengan mudah di benua Afrika."
Tujuan Mereka, Mengancurkan Islam
- Gardener berkata : Perang salib bukan bertujuan untuk menyelamatkan Al-Quds, melainkan untuk menghancurkan Islam.
- Semboyan "Perangi Orang-orang Islam"
yang menjadi semboyan demonstrasi orang-orang Yahudi di Paris sebelum
perang 1967 M, mendapat sambutan positif di seantero Eropa.
- Philip Fondacy mengatakan," Sudah
menjadi sebuah kebutuhan darurat bagi Perancis, untuk melawan Islam di
dunia ini dan menempuh politik permusuhan terhadap Islam. Minimal,
Perancis harus berusaha menghentikan perkembangan Islam.
- Orientalis Perancis, Keymond, dalam
bukunya "Patologi Islam" menulis : Agama Muhammad adalah penyakit kusta
yang menyebar di tengah masyarakat, dan melanda mereka dengan parah. Ia
adalah penyakit yang membuat payah dan kelumpuhan masal. Ia adalah
kegilaan fikiran yang mendorong mnausia untuk melarat dan malas. Ia
tidak menyadarkan manusia dari kemelaratan dan kemalasan, kecuali untuk
menumpahkan darah, menenggak minuman keras dan melakukan semua bentuk
kemesuman. Karenanya, kuburan Muhammad adalah tiang listrik yang membuat
kepala orang-orng Islam menjadi gila. Mereka menampakkan gejala-gejala
kerasukan setan dan kegilaan fikiran yang tiada ujungnya. Mereka
terbiasa untuk berbalik dari tabiat asli kemanusiaan, seperti membenci
daging babi, minuman keras dan musik. Seluruh ajaran Islam tegak di atas
kekerasan dan kemesuman dalam meraih kepuasan !" Ia melanjutkan," saya
yakin, kita harus membinasakan seperlima umat Islam, menghukum sisanya
dengan kerja paksa yang berat, menghancurkan Ka'bah dan menempatkan
mayat Muhammad di museum Lofer."
- Raja Louis IX yang tertawan dalam
perang salib di Manshurah, Mesir menulis," Tidak mungkin meraih
kemenangan atas umat Islam melalui peperangan. Kita hanya akan bisa
mengalahkan mereka, dengan cara sebagai berikut : (a) menimbulkan
perpecahan di kalangan pemimpin umat Islam. Jika sudah terjadi,
perluaslah ruangnya sehingga perselisihan ini menjadi faktor yang
melemahkan umat Islam. (b) Tidak memberi peluang berkuasanya seorang
penguasa yang shalih di negeri-negeri Islam dan Arab. (c) merusak
pemerintahan di negara-negara Islam dengan suap, kerusakan dan wanita
sehingga fondasi bangunan terpisah dengan puncak bangunan. (d) mencegah
munculnya tentara yang meyakini hak atas tanah airnya, rela berkorban
demi membela prinsip tanah airnya. (e) mencegah terbentuknya persatuan
bangsa Arab di kawasan Arab. (f) Membuat sebuah negara Barat di tengah
kawasan Arab, mulai dari Ghaza di sebelah selatan, sampai Antokia di
sebelah utara, kemudian ke arah timur, terus memanjang sampai ke Barat.
- Samuel Zwemer mengatakan,"
Kristenisasi bagi peradaban Barat mempunyai dua keuntungan, keuntungan
destruktif dan keuntungan produktif. Keuntungan destruktif, maknanya
mencabut seorang muslim dari (keterikatan kepada ajaran-ajaran)
agamanya, sekalipun dengan mendorongnya kepada atheisme…Keuntungan
produktif, maksudnya adalah mengkristenkan orang Islam jika
memungkinkan, agar ia bersama peradaban Barat menlawan kaumnya
sendiri.[2]
[1] . Tentang "Armagedon" ini,
selengkapnya bisa dikaji dalam buku tulisan Yusuf Thawil berjudul
"Al-Bu'du Al-Dieni li-Hamalati Busy Al-Shalibiyah 'alal 'Alam Islami wa
'Alaqatuhu bi-Mukhathati Israil Al-Kubra." (Dimensi Religius Dalam
Perang Salib Bush Terhadap Dunia Islam, dan Hubungannya dengan Rencana
Israel Raya).[2] .
Beberapa kutipan ini hanyalah sedikit contoh dari sekian banyak bukti
kebencian kaum Nashrani dan Yahudi kepada umat Islam. Bara dendam perang
salib senantiasa bergejolak dalam keyakinan mereka, terlebih di
kalangan tokoh agama, masyarakat, militer dan pemerintahan mereka. Bagi
mereka, musuh terbesar dan sebenarnya adalah Islam dan kaum muslimin.
Selengkapnya, bisa dikaji dalam beberapa buku semisal Ustadz Jalal 'Alim
; Qadatul Gharbi Yaquluuna Dammirul Islama wa Abiidu Ahlahu, syaikh
Sa'id Hawa : Jundullah Tsaqafatan wa Akhlaqan, DR. Muhammad bin Sa'id
Al-Qahthani : Al-wala' wal Bara' fil Islam, DR. Muhammad Muhammad Husain
: Al-Islam wal Hadharah Al-Gharbiyah, syaikh Salman bin Fahd Al-'Audah :
Al-Shahwah fi Nazharil Gharbi, Nihayatu Al-Tarikh dan lain-lain.
wallahu a'lam bish showab...